Blogger templates

BALASAN UNTUK ORANG – ORANG YANG BERTAQWA



TAFSIR AL QUR’AN
BALASAN UNTUK ORANG – ORANG YANG BERTAQWA
Oleh: Al Ustadz Abu Abdir Rahman Nurul Yaqin -Hafizhahullah-
Catatan kaki: Abu Idris as Salafiy

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
أما بعد
          Kita akan mentadabburi sebagian ayat – ayat Allah ta’ala yang mana semoga hal itu dapat menambahkan keimanan kita kepada-Nya, adapaun yang akan kita baca pada kesempatan kali ini adalah Firman Allah ta’ala dalam surah an Naba’. Allah berfirman:
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا.حَدَآئِقَ وَأَعْنَٰبًۭا. وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًۭا.وَكَأْسًۭا دِهَاقًۭا.لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًۭا وَلَا كِذَّٰبًۭا. جَزَآءًۭ مِّن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًۭا
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. ( QS. An Naba’ 31-36 )
MAKNA TAQWA[1]
            Asal taqwa adalah menjaga dari hal yang dibenci[2], telah datang riwayat bahwa Umar bin Khatab –radliyallahu ‘anhu- bertanya kepada Ubaiy bin Ka’b –radliyallahu ‘anhu- tentang taqwa, beliau menjawab: “ tidakkah kamu pernah berjalan di jalan yang berduri? ” Umar menjawab: tentu saja, beliau bertanya lagi: apa yang kamu lakukan? Umar menjawab: Aku akan berhati – hati dan bersungguh dalam meletakkan kakiku. Beliau berkata: itulah taqwa. ( Tafsir Ibnu Katsir awal surah al Baqarah )
            Rasulullah bersabda:
لا يبلغ العبد أن يكون من المتَّقين حتى يدع ما لا بأس به حذرًا مما به بأس  . ثم قال الترمذي: حسن غريب
“tidaklah sampai seorang berada pada golongan orang – orang yang bertaqwa sehingga dia meninggalkan sesuatu yang mubah karena kewaspadaan dari terjatuh dalam perkara yang bermasalah.” ( HR. Tirmidzi, dia berkata: Hadits Hasan Gharib )
BALASAN – BALASAN BAGI ORANG YANG BERTAQWA[3]
  1. Mendapat kesuksesan
Allah Ta’ala memberikan janji kepada orang – orang yang bertaqwa dalam firmanNya: إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu mafaaza (kesuksesan)  )
Abdullah bin Abbas berkata: mafaaza adalah “Taman Hiburan”[4], inilah pendapat yang dilihat kuat oleh Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini.[5]
Sementara menurut Mujahid dan Qatadah mengatakan: “mereka itu sukses, selamat dari neraka.”[6]
  1. Dapat kebun – kebun dan buah anggur
Allah telah menagaskan dalam firmanNya: حَدَآئِقَ وَأَعْنَٰبًۭا (yaitu kebun – kebun dan buah anggur), imam Ibnu Katsir memberi penjelasan tentang kalimah “Hadaaiqa” yaitu kebun – kebun kurma dan lainnya. [7]
  1. Dapat gadis – gadis perawan
Sebagaimana firmanNya: وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًۭا (dan gadis – gadis remaja yang sebaya).
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa Ibnu Abbas, Mujahid dan yang lainnya mengatakan : ( kawaaib ) yaitu montok – montok, maksudnya buah dada mereka itu montok – montok yang tidak menjulur ke bawah, karena mereka itu gadis – gadis perawan yang penuh kasih sayang lagi sebaya umurnya. [8]
  1. Dapat gelas – gelas yang berisi penuh
Allah ta’ala berfirman: وَكَأْسًۭا دِهَاقًۭا (dan gelas – gelas yang penuh).
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata tafsir ayat tersebut : “penuh secara terus menerus”, Ikrimah berkata: bersih lagi murni.[9]
  1. Tidak mendengar perkataan yang sia – sia
Allah yang Maha Penyayang berfirman: .لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًۭا وَلَا كِذَّٰبًۭا ( di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia – sia dan tidak pula perkataan dusta )
Imam Ibnu Katsir menjelaskan: tidak ada sedikitpun ucapan di dalam surga yang kosong dari faedah dan tidak ada pula sedikitpun dosa kebohongan, bahkan surga itu negeri keselamatan dan semua yang ada di dalamnya selamat dari adanya kekurangan. [10]
  1. Mendapat pemberian yang cukup
Allah yang Maha kaya menutup dengan firmanNya:  جَزَآءًۭ مِّن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًۭا ( sebagai balasan dari Rabbmu dan pemberian yang cukup banyak )
Imam Ibnu Katsir menandas ulang dengan berkata: yang kami sebutkan inilah balasan dari Allah yang dengan keutamaan, karunia, kebaikan dan rahmahNya, Dia memberikan semua ini kepada mereka ( athaa-an Hisaban ) yaitu suatu pemberian yang cukup, melimpah, menyeluruh dan banyak. [11]



[1]  Tambahan dari pemberi catatan kaki
[2]  Ini adalah arti menurut bahasa, sedangkan menurut istilah adalah mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya. ( mengambil Faidah dari syarah Riyadlush Shalihin, syaikh Utsaimin )
[3]  Berkata Hasan Al Bashri: orang yang bertaqwa adalah mereka yang menjauhi apa yang diharamkan atas mereka dan mengerjakan apa yang diwajibkan atas mereka ( tafsir ath Thabari 1/232 ), diantara ciri – ciri orang yang bertaqwa adalah :
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. ( QS. Ali Imran : 134 )
[4]  riwayat ini juga dibawakan oleh ath thabari dalam kitab Tafsirnya 24/170, as Suyuthi dalam Durarul Mantsur  11/01, asy Syaukani dalam kitab Tafsirnya 10/01 dan Abu Hatim dalam Tafsirnya, akan tetapi riwayat ini dlaif dari segi sanadnya, karena terdapat rawi bernama Abu Kuraib Muhammad ibnu ‘Alaa’. ( lihat catatan kaki tafsir Thabari 24/170 dengan Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir )
[5]  Tafsir Ibnu Katsir 8/308, al Maktabah asy Syamilah
[6]  Idem
[7]  Idem
[8]  Idem
[9]  Idem
[10]  Idem
[11]  Tafsir Ibnu Katsir 8/309, al Maktabah asy Syamilah

DLAMIR NASHAB

B A H A S A    A R A B

DLAMIR NASHAB


ضَمِيْر نَصْب
DHAMIR
NASHAB (Kata Ganti Objek)
Dhamir Nashab adalah turunan (bentuk lain) dari Dhamir Rafa' yang terdiri dari:
Dhamir Rafa'
Dhamir Nashab
 
Dhamir Rafa'
Dhamir Nashab
أَنَا
ي
  أَنْتُنَّ كُنَّ
نَحْنُ نَا   هُوَ هُ
أَنْتَ كَ   هِيَ هَا
أَنْتِ كِ   هُمَا هُمَا
أَنْتُمَا كُمَا   هُمْ هُمْ
أَنْتُمْ كُمْ   هُنَّ هُنَّ
Dhamir Nashab berfungsi sebagai objek dan tidak dapat berdiri sendiri; ia terikat dengan kata lain dalam suatu kalimat, baik itu dengan Isim, Fi'il ataupun Harf.
1) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Isim dalam kalimat:
أَنَا مُسْلِمٌ، دِيْنِيَ اْلإِسْلاَمُ = saya seorang muslim, agamaku Islam
نَحْنُ مُسْلِمُوْنَ، دِيْنُنَا اْلإِسْلاَمُ = kami orang-orang muslim, agama kami Islam
أَنْتَ مُسْلِمٌ، دِيْنُكَ اْلإِسْلاَمُ = engkau (lk) seorang muslim, agamamu Islam
أَنْتِ مُسْلِمَةٌ، دِيْنُكِ اْلإِسْلاَمُ = engkau (pr) seorang muslim, agamamu Islam
2) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Fi'il dalam kalimat:
أَنْتُمَا مُسْلَمَانِ، اَللهُ يَرْحَمُكُمَا = kamu berdua adalah muslim, Allah merahmati kamu berdua
أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، اَللهُ يَرْحَمُكُمْ = kalian (lk) adalah muslimun, Allah merahmati kalian
أَنْتُنَّ مُسْلِمَاتٌ، اَللهُ يَرْحَمُكُنَّ = kalian (pr) adalah muslimat, Allah merahmati kalian
هُوَ مُسْلِمٌ، اَللهُ يَرْحَمُهُ = dia (lk) adalah muslim, Allah merahmatinya
3) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Harf dalam kalimat:
هِيَ مُسْلِمَةٌ، لَهَا رَحْمَةُ اللهِ = dia (pr) adalah seorang muslimah, untuknya rahmat Allah
هُمَا مُسْلِمَانِ، لَهُمَا رَحْمَةُ اللهِ = mereka berdua adalah muslim, untuk mereka berdua rahmat Allah
هُمْ مُسْلِمُوْنَ، لَهُمْ رَحْمَةُ اللهِ = mereka (lk) adalah muslimin, untuk mereka rahmat Allah
هُنَّ مُسْلِمَاتٌ، لَهُنَّ رَحْمَةُ اللهِ = mereka (pr) adalah muslimat, untuk mereka rahmat Allah
Gabungan Dhamir Nashab yang melekat pada Isim akan membentuk Isim Ma'rifah dengan pola Mudhaf-Mudhaf Ilaih dimana Isim di depannya merupakan Mudhaf sedang Dhamir Nashab di belakangnya merupakan Mudhaf Ilaih.
بَيْتِيْ (=rumahku) --> بَيْتٌ [Mudhaf] + ي [Mudhaf Ilaih]
كِتَابُكَ (=bukumu) --> كِتَابٌ [Mudhaf] + كَ [Mudhaf Ilaih]
مَدْرَسَتُهُمْ (=sekolah mereka) --> مَدْرَسَةٌ [Mudhaf] + هُمْ [Mudhaf Ilaih]
Hafalkanlah semua Dhamir Nashab di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

DOA DIKALA SEDIH

D  O  A

DOA DIKALA SEDIH





34- DOA PENAWAR HATI YANG DUKA

120- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.
120. “Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.” [137]
121- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.
121. “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” [138]
---------------------------------
[137] HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.
[138] HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173.


35- DOA UNTUK KESEDIHAN YANG MENDALAM

122- لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ اْلأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمُ.
122. “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Pengampun. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai arasy, yang Maha Agung. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi. Tuhan Yang menguasai arasy, lagi Maha Mulia.” [139]
123- اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.
123. “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” [140]
124- لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.
124. “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang zhalim.” [141]
125- اللهُ اللهُ رَبِّي لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.
125. “Allah-Allah adalah Tuhanku. Aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.” [142]
---------------------------------


[139] HR. Al-Bukhari 7/154, Muslim 4/2092.
[140] HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42. Menurut pendapat Al-Albani, hadits di atas adalah hasan dalam Shahih Abu Dawud 3/959.
[141] HR. At-Tirmidzi 5/529 dan Al-Hakim. Menurut pendapatnya yang disetujui oleh Adz-Dzahabi: Hadits tersebut adalah shahih 1/505, lihat Shahih At-Tirmidzi 3/168.
[142] HR. Abu Dawud 2/87 dan lihat Shahih Ibnu Majah 2/335.

ASY SYAIKH AMIN ASY SYINQITHI MEMBANTAH KEYAKINAN JIHADI[1]


ASY SYAIKH AMIN ASY SYINQITHI MEMBANTAH KEYAKINAN JIHADI[1]
oleh: Asy Syaikh Amin Asy Syinqithi
penerjemah: Mujahid as Salafi

KATA PENGANTAR
الحمد لله رب العالمين حمداً كثيراً وصلى الله على محمد عبده ورسوله  وعلى ملائكة الله المقربين وأنبيائه المرسلين ، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
         
          Maha suci Allah yang telah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. ( QS. Ibrahim: 34 )
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍۢ فَمِنَ ٱللَّهِ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). ( QS. An Nahl : 53 )
وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. ( QS. An Nahl : 114 )
            Diantara nikmat Allah ta’ala atas kita yang patut disyukuri adalah adanya ulama’ sunnah yang membela agama ini dengan hujjah, memberi penjelasan bagi orang yang hidup dalam kebodohan.
            Pada kali ini kami akan memuat sebagian tafsir beliau dalam masalah udzur jahil bagi pelaku syirik akbar. Karena pentingnya masalah ini maka kami merasa perlu untuk memuatnya, meskipun kali kami telah membahas masalah tersebut di blog ini dengan judul:
1.      MENDUDUKKAN PERMASALAHAN UDZUR KARENA KEJAHILAN
2.      Mengungkap ketergelinciran aman Abdur Rohman dalam permasalahan Udzur karena kejahilan
Akan tetapi kami merasa perlu untuk membahasnya dikarenakan para pengklaim mujahidin melakukan pengkaburan atasnya, misalnya menyatakan tiada udzur jahil adalah ijma’-sebagaimana dikatakan Aman Abdur Rahman- bahkan tidak segan – segan mereka menuduh murji’ah atas orang yang tidak sepemahaman dalam masalah ini. Dan ini adalah merupakan kesesatannya, Allah berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. ( QS. Ash Shaff : 05 )
Imam Ibnu Katsir menafsirkan: ketika mereka berpaling dar mengikuti kebenaran dengan ilmu yang mereka miliki, maka Allah akan memalingkan hati mereka dari petunjuk, akan menjadikan hatinya dalam keraguan, kebingunan dan keterlantaran, sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَٰرَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٍۢ وَنَذَرُهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. ( QS. Al An’am : 110 )
Bahasan kali ini  bersumber langsung dari kitab Adlwaul Bayan karya asy Syaikh Amin asy Syinqithi. Sengaja kami merujuk pada kitab tersebut karena kami melihat pendapat beliau dalam masalah ayat hukum diikuti mereka, dengan harapan mereka bisa menyikapi hal ini dengan obyektif dan jauh dari ta’ashshub sekaligus sebagai koreksi atas keyakinan jihadi yang menyatakan tiada udzur jahil adalah ijma’ ulama’. Amin yaa mujibas sailin……..

                           Mujahid As Salafi
       Pengelola www.millahmuhammad.blogspot.com


------------------------------------------------------------------------



Allah ta’ala berfirman:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا
dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. ( QS. Al Isra’ : 15 )

            zhahir ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala tidak mengadzab  di dunia maupun di akhirat seorang dari makhlukNya yang berbuat dosa sampai Dia mengutus atasnya seorang rasul yang memberi peringatan padanya lantas bermaksiat terhadap rasul tersebut, senantiasa diatas kekafiran dan bermaksiat kepada Allah (padahal) telah datang peringatan dan ancaman.
            Sungguh Allah ta’ala telah menjelaskan makna ayat ini dibeberapa ayat, seperti:
رُّسُلًۭا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ ۚ
(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.  ( QS. An Nisa’ : 165 )
Allah ta’ala telah menjelaskan melalui ayat yan mulia ini sesungguhnya terputusnya hujjah pada setiap orang dengan diutusnya para rasul yang memberi kabar gembira bagi orang yang taat kepada para rasul dengan surga dan memberi peringatan bagi orang yang berma’siat kepada para rasul dengan neraka. Allah ta’ala juga menjelaskan ma’na ayat ini dalam akhir surat Thoha, dengan firmanNya:
وَلَوْ أَنَّآ أَهْلَكْنَٰهُم بِعَذَابٍۢ مِّن قَبْلِهِۦ لَقَالُوا۟ رَبَّنَا لَوْلَآ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًۭا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ
Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Qur'an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?". ( QS. Thoha : 134 )
Mengisyaratkan pula di surat al Qashash:
وَلَوْلَآ أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا۟ رَبَّنَا لَوْلَآ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًۭا فَنَتَّبِعَ ءَايَٰتِكَ وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin". ( QS. Al Qashash: 34 )
ذَٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍۢ وَأَهْلُهَا غَٰفِلُونَ
Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. ( QS. Al An’am : 131 )
يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍۢ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُوا۟ مَا جَآءَنَا مِنۢ بَشِيرٍۢ وَلَا نَذِيرٍۢ ۖ فَقَدْ جَآءَكُم بَشِيرٌۭ وَنَذِيرٌۭ ۗ
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: "Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. ( QS. Al Maidah : 19 )
وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌۭ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. أَن تَقُولُوٓا۟ إِنَّمَآ أُنزِلَ ٱلْكِتَٰبُ عَلَىٰ طَآئِفَتَيْنِ مِن قَبْلِنَا وَإِن كُنَّا عَن دِرَاسَتِهِمْ لَغَٰفِلِينَ. أَوْ تَقُولُوا۟ لَوْ أَنَّآ أُنزِلَ عَلَيْنَا ٱلْكِتَٰبُ لَكُنَّآ أَهْدَىٰ مِنْهُمْ ۚ فَقَدْ جَآءَكُم بَيِّنَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ ۚ
Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca." Atau agar kamu (tidak) mengatakan: "Sesungguhnya jika kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka." Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. ( QS. Al An’am : 155-157 )
Dan yang memisalnya, menjelaskan lagi menunjukkan sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan menyiksa seorangpun kecuali setelah diberi peringtan melalui lisan para Rasul –a’alaihim ash shalatu wa as salam-. Penjelasan Allah Azza wa Jalla mengenai “Dia tidak akan memasukkan seorang keneraka kecuali setelah diberi peringatan melalui lisan para Rasul ” berada dalam ayat – ayat yang banyak, diantaranya:
كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌۭ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌۭ.قَالُوا۟ بَلَىٰ قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌۭ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ
Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab: "Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatu pun. ( QS. Al Mulk : 8-9 )
firmanNya (  كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌۭ) bersifat umum atas semua orang kafir yang berada di neraka, berkata Abu Hayyan dalam “Bahrul Muhith” seraya menjelaskan tafsir ayat ini (كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌۭ  ) adalah menunjukkan umum disetiap zaman – zaman yang ada.
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌۭ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ
Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. ( QS. Az Zumr : 71 )
Firman Allah ta’ala (وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟  ) bersifat umum bagi semua orang kafir. Sesungguhnya telah tetap di qaidah ushul bahwa isim – isim maushul seperti “ al ladzi, al lati dan cabang dari keduanya ” termasuk sighah umum berlaku disetiap yang meliputinya. Disebutkan dalam Maraaqu as Sa’ud:
Shighah “kullu” atau jama’
            Ditandai dengan al ladzi, al lati dan cabang dari keduanya
            Maksud baitnya adalah: “ al ladzi, al lati dan cabang dari keduanya ” menunjukkan sighah umum, maka Firman Allah ta’ala (وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟  ) sampai FirmanNya (يَوْمِكُمْ هَٰذَا ) menunjukkan umum berlaku bagi semua orang kafir.
            Zhahir ayat (diatas) menunjukkan semua penduduk neraka itu sungguh telah diberi peringatan oleh Rasul di dunia, maka mereka bermaksat terhadap perintah Rabb mereka, hal ini adalah perkara yang jelas sekali. Pandangan lain (sebagai penguat) hal ini adalah firman Allah ta’ala:
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا۟ وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى كُلَّ كَفُورٍۢ. وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ ۖ
Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? ( QS. Faathir : 36-37 )
            Oleh karena itu firman Allah ta’ala (وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟  ) sampai pada firmanNya ( yang disebutkan setelahnya ) (ٱلنَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا۟  )[2]  berlaku umum juga bagi semua penghuni neraka –sebagaimana penjelasan yang telah lalu-, pandangan lain (sebagai penguat berikutnya, penj) adalah firman Allah ta’ala :
وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِى ٱلنَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًۭا مِّنَ ٱلْعَذَابِ قَالُوٓا۟ أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۚ قَالُوا۟ فَٱدْعُوا۟ ۗ وَمَا دُعَٰٓؤُا۟ ٱلْكَٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَٰلٍ.
Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari". Penjaga Jahanam berkata: "Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?" Mereka menjawab: "Benar, sudah datang". Penjaga-penjaga Jahanam berkata: "Berdoalah kamu". Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. ( QS. Ghaafir : 49-50 )
            Dan ayat lainnya yang semisal menunjukkan semua penghuni neraka telah diberi peringatan oleh para Rasul di dunia.
            Ayat – ayat yang kami sebutkan dan yang semisal denganya menunjukkan atas udzur ahlil fathrah[3] dengan sebab tidak datang pemberi peringatan kepada mereka. Ini adalah pendapat kebanyakan Ahli Ilmu.
            Ulama’ lain ada yang berpendapat “setiap orang yang mati kafir maka dia di neraka meskipun belum datang padanya pemberi peringatan”. Mereka berdalil dengan keumuman ayat – ayat dalam al qur’an dan hadits hadits Nai –shalallahu ‘alaihi wa as salam-, diantaranya:
وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًۭا
Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.( QS. An Nisa’ : 18 )
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ ٱللَّهِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. ( QS. Al Baqarah : 161 )
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌۭ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ ٱلْأَرْضِ ذَهَبًۭا وَلَوِ ٱفْتَدَىٰ بِهِۦٓ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. ( QS. Ali Imran : 91 )
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. ( QS. An Nisa’ 48 )
وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ ٱلطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ ٱلرِّيحُ فِى مَكَانٍۢ سَحِيقٍۢ
Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. ( QS. Al Hajj : 31 )
إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, ( QS. Al Maidah : 72 )
إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,
( QS. Al A’raaf : 50 )
            Dan yang semisalnya, zhahir ayat ini bersifat umum, tidak mengkhusushkan bagi sebagian orang kafir saja ( baik yang telah datang pemberi perinagatan maupun belum, penj ).
            Adapun diantara hadits – hadits yang menunjukkan orang kafir (ahlul fathrah) tidak diudzur adalah:
Dari Anas bin Malik –radliayallahu ‘anhu- dia berkata “ seorang laki – laki bertanya: ya Rasulallah dimana bapakku? Beliau menjawab: di neraka, ketika dia pergi beliau memanggilnya seraya bersabda: sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka ”. ( HR. Muslim 347 )
Aku (Rasulullah) minta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, maka Dia tidak mengizinkan dan aku minta izinNya untuk berziarah kuburnya (Aminah), maka Dia mengizinkan aku. ( HR. Muslim 105 )
Nabi berziarah kubur ibunya lantas menangis disekitar kuburnya, seraya berkata “Aku (Rasulullah) minta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, maka Dia tidak mengizinkan dan aku minta izinNya untuk berziarah kuburnya (Aminah), maka Dia mengizinkan aku”, berziarah kuburlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kematian. ( HR. Muslim 108 )
            Hadits – hadits diatas dan semisalnya menunjukkan peniadaan udzur bagi orang musyrik sebab fatrah. ( namun ) permasalahan ini adalah terdapat perselisihan yang masyur dikalangan ulama. Apakah orang musyrik yang mati pada masa fathrah berada di neraka sebab kekafirannya, atau mereka diberi udzur? Qaidah ini berada Dalam maraaqu as Sa’ud disebutkan:
Ahlul Fthrah tetap dengan cabang
            Dikalangan ahli ushul terdapat perselisihan
            Diantara yang berpendapat ahlul fatrah yang mati kafir berada di neraka adalah imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Imam Qarraafi dalm Syarah Tanqihul Ijma’ sebagaimana dinukil oleh penulis kitab Nasyrul Bunud.
            Jawaban mereka yang tidak mengudzur ahlul fatrah (atas hujjah mereka yang mengudzur) tentang  firman Allah ta’ala (وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا)  adalah dari empat alasan:
  1. Hukuman yang ditiadakan dalam firmanNya (وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا)  dan yang semisalnya adalah hukuman di dunia, sebagaimana hukuman yang menimpa kaum nabi Nuh, Huud, Shalih, Luth, Syu’aib, Musa dan semisal mereka –alaihim ash shalatu wa as asalam- maka ini tidak pula menafikan adzab di akhirat. Ucapan ini aalah perkataan Abu Hayyan, Syaukani dan selain mereka sebagaimana hal ini terdapat dalam kitab tafsir mereka.
  2. Bahwasanya udzur dengan sebab fathrah yang terdapat dalam firman Allah (وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا)  dan ayat yang semisalnya masih butuh penjelasan yang mana hal ini tidak samar bagi yang memiliki akal sehat. Misalna penyembah berhala tidak seorangpun mengudzur, karena orang kafir meyakini bahwa Allah ta’ala adalah pencipta mereka, pemberi rizki, pemberi manfaat dan memberi bahaya atas mereka, mereka pula mengetahui bahwa berhala – berhala itu tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula menolak bahaya, sebagaimana hal ini Allah firmankan mengenai kaumnya Ibrahim –alaihi as salam-:

لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ
Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". ( QS. Al Anbiya’ : 65 )
Sebagaimana datang pula penjelasan dari ayat – ayat qur’an yang banyak sekali mengisyaratkan orang – orang kair mengikhlaskan doa hanya kepada Allah di waktu susah, supaya mereka mengetahui selain Allah ta’ala tidak dapat mendatangkan manfaat dan tdak pula menolak bahaya, Allah berfirman:
فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. ( QS. Al Ankabut : 65 )
وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌۭ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
 ( QS. Luqman : 32 )
وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِى ٱلْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُ ۖ
Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. ( QS. Al Isra’ : 67 )
Dan yang semisalnya, akan tetapi orang kafir menyalahi diri mereka berupa kefanatikan mereka terhadap berhala . mereka mengira bahwasanya baerhala itu mendekatkan diri mereka kepada Allah denagan sedekat – dekatnya, mereka juga beranggapan berhala – berhala itu penolong mereka disis Allah, padahal akal yang sehat mengingkari hal itu.
  1. Orang – orang kafir itu disisi mereka terdapat ketetapan peringatan yang datang dari para Rasul terdahulu yang diutus sebelum Nabi kita –shalallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti Nabi Ibrahim dan selain beliau dengan sebab itulah hujjah telah tegak atas mereka, ini adalah pendapat imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan pendapat Al Abadi dalam al ayaat al bayyinat.
  2. Hadits Shahih yang datang dari Nabi kita –shalallahu ‘alaihi wa sallam- menunjukkan Ahlul Fthrah di neraka, sebagaimana telah kami sebutkan terdahulu daam shahih muslim

Ulama’ yang mengudzur Ahlul Fathrah menjawab empat alasan diatas,
Jawaban alasan ke I:
            Terbantahkan dengan dua alasan:
  1. Hal ini menyelisihi zhahir ayat al qu’an yang menjelaskan hukuman secara muthlaq baik di dunia maupun di akhirat, sehingga memalingkan zhahir ayat ini dari zhahirnya adalah terlarang. Dan orang yang menyelewengkan al qur’an dari zhahirnya hendaknya ruju’.
  2. Al qur’an dalam aat – ayat yang banyak menunjukkan hukuman itu di akhirat, sebagaimana firman Allah:

كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌۭ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌۭ.قَالُوا۟ بَلَىٰ قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌۭ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ
Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab: "Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatu pun. ( QS. Al Mulk : 8-9 )
(ayat tersebut) adalah dalil bahwa semua penghuni neraka tidak diadzab di akhirat kecuali diberi peringatan dari para Rasul (kemudian membangkang) sebagaimana penjelasan yang telah lalu.
Jawaban alasan ke II:
            Membedakan antara yang jelas dan tidak menyelisihi zhahir ayat al qur’an kecuali dengan dalil, orang yang menylewengkan al qur’an dari zhahirnya wajib ruju’ atasnya, karena Allah ta’ala telah menashkan penduduk neraka tidak diadzab sehinga mereka mendustakan para Rasul di dunia setelah datang atas mereka peringatan,  tentang yang demikian itu telah datang penjelasannya sebagaimana yang telah lalu.
Jawaban alasan yang ke III;
            Apa yang ditegaskan imam Nawawi dan al Abadi adalah ucapan bathil tanpa diragukan lagi. Banyak ayat al qur’an yang menjelaskan tentang kebathilannya, Allah berfirman:
لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ فَهُمْ غَٰفِلُونَ
agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. ( QS. Yaasin : 6 )
            مَّا pada lafadz مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمْ adalah nafi berdasarkan penelitian yang benar, hal ini ditunjukkan dengan fa’ pada firman Allah فَهُمْ غَٰفِلُونَ
وَمَا كُنتَ بِجَانِبِ ٱلطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَٰكِن رَّحْمَةًۭ مِّن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٍۢ مِّن قَبْلِكَ
Dan tiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu. ( QS. Al Qashash : 46 )
وَمَآ ءَاتَيْنَٰهُم مِّن كُتُبٍۢ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَآ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِن نَّذِيرٍۢ
Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun. ( QS. Saa’ : 44 )
أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ ۚ بَلْ هُوَ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْمًۭا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٍۢ مِّن قَبْلِكَ
Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia Muhammad mengada-adakannya". Sebenarnya Al Qur'an itu adalah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu.
( QS. As Sajdah : 03 ) dan yang semisalnya
Jawaban alasan ke IV:
            Hadits – hadits dalam shahih Muslim dan lainnya yang berhubungan dengan ayat ini adalah hadits ahad, hendaknya didahulukan firman Allah, seperti al Isro’ ayat 15 dan al Mulk ayat 9. Adapun mengenai ayat – ayat yang dijadikan hujjah mereka semisal surat an Nisa’ 18 maka jawaban sebagaimana yang telah lalu yakni bahwa ayat itu menjelaskan ketika rasul – rasul diutus atas mereka lantas mereka mendustakan para rasul dengan dalil surat al isro’ ayat 15.

            Muqayyadah –semoga Allah mengampuninya- yang benar mengenai masalah ini adalah bahwa orang fathrah diudzur di dunia dan Allah akan menguji mereka di akhirat. Wallahu a’lam. Adlwaul bayan 3/335-341

















                 



[1]  Judul dan kata pengantar adalah tambahan dari penerjemah.
[2] Surat Faathir ayat 37
[3]  Ahlul fathrah adalah orang yang hidup dalam masa kekosongan watu antar dua orang rasul, dimana ia tidak mendapati rasul yang pertamam dan tidak pula yang ke dua. ( Jam’ul Jawami’ 1/63 )