Blogger templates

Kisah Penduduk Madyan

oleh: asy - Syeikh Mamduh Farhan Al-Buhairi


Penduduk Madyan dahulunya adalah kaum Arab yang mendiami Kota Madyan, yaitu suatu negeri yang berada di wilayah Ma’aan, bagian dari Syam yang dekat dengan laut negeri Kaum Luth.[1] Mereka adalah orang-orang kafir yang suka merampok di jalanan. Mereka menakuti orang-orang yang lewat. Mereka menyembah pohon, yaitu semak belukar. Mereka suka mengurangi timbangan. Hingga akhirnya Allah mengutus seorang di antara mereka, yaitu Syu’aib ‘alaihissalam. Ia menyeru kaumnya kepada tauhid, menjauhi segala perbuatan buruk dan tidak menganiaya manusia. Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman :
“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman." Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al A’raf : 85-86).
Jadi ia mengajak kaumnya kepada tauhid, memerintahkan kepada mereka untuk berbuat adil dan tidak mengurangi hak manusia. Ia melarang kaumnya merampok di jalanan, baik secara lahir maupun batin. Dan ia mengingatkan kaumnya atas nikmat Allah yang telah dilimpahkannya kepada mereka, padahal dahulunya mereka tidak memiliki apa-apa.
Akan tetapi, sebagaimana kebiasaan kaum yang suka berbuat zhalim pada abad-abad terdahulu, mereka mendustakan dan memperolok para nabi mereka. “Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (Huud : 87)
Mereka mengatakan hal ini untuk tujuan memperolok, meremahkan dan menghina. Maka Syu’aib berkata : “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Huud : 88). Maka Syu’aib menjelaskan kepada kaumnya bahwa ia berada di atas perintah Rabb-nya dan ia diutus oleh-Nya kepada mereka. Jika Allah memerintah, maka ia-lah yang akan mengikuti pertama kali, dan jika Ia melarang, maka ia-lah yang pertama kali akan menjauhi.
Kemudian Syu’aib menjelaskan kepada mereka keadaan umat-umat terdahulu yang mendustakan para utusan Allah dan peringatan serta adzab Allah yang ditimpakan kepada mereka. Syu’aib berkata : “Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.” (Huud : 89). Yaitu, janganlah kebencian kalian kepadaku menjadikan kalian menyelisihi perintah Allah. Karena sesungguhnya Kaum Nuh, Kaum Huud, Kaum Sholih dan Kaum Luth telah mendustakan para utusan Allah. Mereka menentangnya dan tidak menghiraukan para utusan tersebut, sehingga mereka menerima adzab yang pedih.
Kemudian Syu’aib menyeru kaumnya kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan membukakan pintu taubat dan ampunan agar mereka kembali. Syu’aib berkata : “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (Huud : 90). Akan tetapi, mereka malah menentang dan sombong. “Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.” (Huud : 91). Yaitu, kami tidak mengerti ucapanmu, kami tidak suka dan kami tidak ingin mendengarnya. Kamu lemah dihadapan kami. Kalau sekiranya bukan karena kabilahmu dan keluargamu, niscaya kami sudah merajammu. “Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (Huud : 92). Maka Syu’aib membantah mereka dengan berkata : “Apakah kalian lebih takut kepada kabilahku dan keluargaku dan tidak takut kepada Allah?” Maka kemudian ia memberikan ancaman kepada kaumnya dan berkata : “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” (Huud : 93)
Tatkala azab Allah sudah pantas untuk ditimpakan kepada mereka, maka Allah mengumpulkan semua jenis azab untuk ditimpakan kepada mereka, karena mereka telah melakukan berbagai jenis perbuatan buruk dan hina. Akhirnya mereka diazab pada hari di mana mereka dinaungi awan sebagaimana firman Allah : “Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa 'azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar.” (As Syu’ara : 189) Kemudian mereka diazab dengan gempa yang menggoncang dan melenyapkan mereka dari bawah, sebagaimana Allah firmankan:
“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (Al A’raf : 78)
Kemudian mereka diazab dengan suara yang mengguntur, “Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (Huud : 94), yaitu suara yang sangat keras dan mengalahkan suara yang lain.
Ibnu katsir berkata: “Mereka ditimpa suhu yang sangat panas selama 7 hari dan tidak ada satupun yang dapat bersembunyi. Kemudian datang kepada mereka awan yang menaungi mereka, maka merekapun berteduh di bawah awan tersebut. Maka tatkala mereka semua telah berkumpul di bawahnya, Allah mengirimkan kepada mereka percikan api, lidah api, dan nyala api yang sangat besar. Kemudian bumi bergoncang dan datang suara yang mengguntur sehingga ruh-ruh mereka lenyap.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/160).
Sungguh celaka orang-orang yang berbuat aniaya! [*]

[1] Kota kediaman Luth, dalam Perjanjian Lama disebut sebagai kota Sodom. Karena berada di utara Laut Merah, kaum ini diketahui telah di-hancurkan sebagaimana termaktub dalam Al Quran. Kajian arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada di wilayah Laut Mati yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania

sumber: Majalah Qiblati Edisi 1 th IV

Al-Aghwaat, diantara Rahasia Dua Tanah Suci

oleh: asy - Syeikh Mamduh Farhan Al Buhairi
Al Aghwaat dengan bentuk tunggalnya Agha adalah istilah untuk sekumpulan orang yang mengabdi di dua tanah suci (Makkah dan Madinah). Akan tetapi mereka dikebiri dan tidak memiliki syahwat. Asal usul mereka dari Afrika. Dahulu, beberapa kabilah dari Habasyah mengebiri anak cucu mereka dan menjadikan mereka sebagai hadiah untuk dua tanah suci agar mengabdi di sana. Walaupun mereka bersalah dalam masalah ini, akan tetapi mereka memiliki andil dalam mengabdi di dua tanah suci. Siapakah mereka dan bagaimana kisah mereka? Akan kami ceritakan kepada para pembaca Majalah Qiblati yang budiman.
Asal Muasal Kata Agha
Istilah Agha pertama kali digunakan pada masa-masa pemerintahan Ustmaniyyah oleh para pembesar, tuan tanah dan pemimpin pelayan di rumah atau istana. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang melakukan tugas-tugas kemiliteran, sehingga mereka dijuluki dengan agha. Istilah ini juga digunakan kepada para pelayan istana yang telah dikebiri. Setelah itu, istilah ini digunakan secara khusus bagi para pelayan di dua tanah suci.
Sejarah Aghawaat
Sejarah aghawaat tidak terlepas dari masa Muawiyyah bin Abi Sufyan t. Dialah yang pertama kali mengangkat seorang pelayan untuk ka’bah yang mulia dari kalangan hamba. Adapun yang pertama kali mengangkat pelayan ka’bah dari kalangan orang yang dikebiri adalah Yazid bin Muawiyah walaupun ada ahli sejarah lain yang menyebutkan bahwa yang pertama kali mengangkat aghwaat di Masjidil Haram adalah Khalifah ‘Abbasiyyah Abu Ja’far al Manshur. Dan inilah pendapat yang lebih kuat.
Adapun aghwaat untuk Masjid Nabawiy, maka sejarahnya tidak lepas dari masa Raja Yang Suka Menolong, Sholahuddin Yusuf bin Ayyub (yang biasa dikenal dengan sebutan Shalahuddin al-Ayyubi) 568 H/ 1172 M. Dialah yang pertama kali menetapkan orang yang dikebiri untuk mengabdi di Masjid Nabawiy.
Tugas Mereka di Masjidil Haram
Di antara tugas mereka adalah menjaga keamanan, mendampingi orang-orang yang tawaf dengan memisahkan antara yang laki-laki dan perempuan, menemani imam masjid, mencuci ka’bah dan Masjidil Haram, membersihkan tempat tawaf, membersihkan Masjidil Haram dan sisa mandi. Dahulu kala ketika Masjidil Haram belum menggunakan listrik, mereka bertanggung jawab menurunkan pelita (lampu), mengisinya dengan minyak dan menggantungkannya kembali. Mereka juga bertanggung jawab mencuci dan mengusap, serta menyalakannya ketika waktu sahur.
Tugas Mereka di Masjid Nabawiy
Menjaga masjid ketika siang hari dan langsung menutup pintu-pintunya, bermalam di sana untuk menjaganya, berkeliling setelah mendirikan shalat isya dengan membawa pelita (lampu) untuk mencari orang-orang yang dianggap mencurigakan dan mengusirnya, membukakan pintu-pintu bagi para muadzin, menjauhkan para wanita ketika menutup pintu-pintu masjid, menyapu masjid, raudhoh dan hujroh (kamar Nabi) setiap hari Jum’at, membersihkan dinding setiap tahun dan menyiapkan karpet Amir Madinah (Gubernur Madinah).
Adapun pada saat ini, tugas pokok mereka ada empat, yaitu :
  1. Turut serta menerima kedatangan raja dan para utusan yang menemaninya.
  2. Melayani para tamu kerajaan, seperti para pemimpin negara, para menteri dan yang mengikuti mereka, di mana mereka menyiapkan tempat sujud para tamu tersebut dan menghidangkan air zam zam bagi mereka.
  3. Memisahkan wanita dari laki-laki ketika tawaf dan melarang para wanita tawaf sesudah adzan dikumandangkan.
  4. Di masjid Nabawiy, aghwaat bertugas mengharumkan roudhoh, membersihkan kamar Nabi, membukakan kamar untuk para tamu ketika ada keperluan, menerima tamu kerajaan di pintu salam, menemani mereka hingga mereka meninggalkan Masjid Nabawy.
Pakaian Para Aghwaat
Para aghwaat menggunakan pakaian tertentu yang membedakan mereka dengan yang lain. Ibnu Bathutah pernah menggambarkan mereka dalam perjalanannya : “Mereka (aghwaat) berpenampilan sangat baik, rupa yang bersih, pakaian yang rapih, pemimpin mereka dikenal dengan sebutan Syaikhul Haram, dia berpenampilan layaknya para pembesar.” (Rihlah Ibnu Bathutah, Tuhfah an Nadhor, hal 121)
Pada masa-masa pemerintahan Utsmaniyyah, para aghwaat menggunakan mantel dari Istanbul, pakaian yang besar dan diikat dengan sabuk, mereka membawa tongkat panjang dan menggunakan penutup kepala. Hal ini masih berlaku hingga sekarang. Dahulu, para aghwaat sangat tegas dalam berpakaian, dan jika ada seorang di antara mereka yang menggunakan pakaian tetapi kancing lengan bajunya terbuka, niscaya mereka akan dihukum. Mereka juga menggunakan jam dan cincin, dan tidak memegang payung.
Para aghwaat berbeda-beda antara satu dengan yang lain sesuai dengan tingkatan mereka masing-masing. Perbedaan ini nampak pada pakaian yang mereka gunakan. Mungkin bisa membedakan tingkatan para aghwaat melalui penggunaan syal (sabuk dari kain wol) dengan ketentuan tertentu. Orang yang tingkatannya tinggi akan meletakkan syal di pundaknya. Adapun yang lain, maka akan mengikat syal-nya di tengahnya. Adapun di rumah mereka, mereka akan menggunakan pakaian pada umumnya.
Tingkatan Para Aghwaat
Tingkatan aghwaat ada sembilan, dan yang terpenting adalah :
  1. Pemimpin mereka yang dikenal dengan Syaikhul Aghwaat, ia bertanggung jawab terhadap semua tugas para aghwaat.
  2. Kemudian sesudahnya ada Naqiibul Aghwaat (wakil aghwaat), ia adalah pengganti syaikhul aghwaat sepeninggalnya.
  3. Kemudian sesudahnya ada Amiinul Aghwaat
Syarat Menjadi Aghwaat
Disyaratkan bagi siapa saja yang ingin bergabung menjadi aghwaat, antara lain ; dikebiri, menerima aturan yang diberlakukan kepada para aghwaat, tinggal di tanah haram selama 7 tahun berturur-turut sesuai dengan jadwal/ giliran yang telah ditentukan, melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, menaati perintah pimpinannya, dan menikmati pekerjaannya dengan baik.
Dahulu kala, pencarian terhadap orang yang dapat memenuhi syarat yang telah disebutkan di atas dilakukan sendiri oleh para aghwaat yang melakukan perjalanan dengan tujuan khusus untuk mencari seorang agha. Jika mereka mendapati seseorang yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, maka mereka akan memberitahukan hal ini kepada Syaikhul Aghwaat. Kemudian Syaikhul Aghwaat merekomendasikannya kepada kedudukan yang lebih tinggi, sampai akhirnya Menteri Haji dan Wakaf memutuskannya, dan memberikan kewarganegaraan Saudi kepadanya. Maka selesailah rekruitmen seorang agha melalui cara tour/ perjalanan mengelilingi Saudi. Dan setelah kedatangannya, dilakukan tes kesehatan dan memberitahukan aturan yang harus diikuti para aghwaat, kemudian hasilnya disampaikan kepada Kementerian Haji dan Wakaf.
Oleh karena itu, pencarian para Aghwaat dilakukan sendiri oleh para pelayan dua tanah suci. Ketika mereka melakukan pencarian ke daerah Habasyah, mereka ditugaskan untuk mencari orang-orang dengan karakteristik seorang agha.
Adapun pada saat ini, maka rekruitmen aghwaat baru tidak diperkenankan, hal ini didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Rekruitmen Agha terakhir dengan cara seperti ini terjadi pada tahun 1978 M/ 1399 H. Dan pada saat ini aghwaat yang tersisa adalah 12 orang di Masjidil Haram dan 9 orang di Masjid Nabawi, di mana yang termuda di antara mereka berusia 60 tahun. Kebanyakan mereka telah berhenti dari aktifitas mereka karena usia mereka yang telah lanjut dan kesehatan mereka tidak mendukung lagi untuk bekerja ataupun pergi ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Aghwaat Pada Masa Pemerintahan Kerajaan Arab Saudi
Pada masa pemerintahan Kerajaan Arab Saudi, aghwaat memiliki kedudukan yang terhormat. Mereka dimuliakan mengingat jasa pengabdian mereka yang teramat agung terhadap dua tanah suci. Perhatian Kerajaan terhadap para aghwaat muncul seiring dengan kemunculan Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1346 H. Hal ini berasal dari kebijakan Yang Mulia Raja Abdul Aziz –semoga Allah merahmatinya- dalam sebuah tulisannya : “Lebih khusus lagi adalah para aghwaat di Masjidil Haram, mereka dengan pengabdian yang telah mereka lakukan kepada tanah haram, maka tidak sepantasnya seseorang memprotes apa yang mereka lakukan dan mencampuri urusan mereka”.
Adapun sepeninggal Yang Mulia Raja Abdul Aziz –semoga Allah merahmatinya-, Raja Su’ud menetapkan kebijakan orang tuanya dengan mengeluarkan surat keputusan raja nomor 35 tanggal 4 Rabi’ulawwal 1374 H dengan kutipan sebagai berikut : “Bahwa kami menetapkan para aghwaat Masjidil Haram untuk tetap seperti biasanya dan teratur melakukan apa yang selama ini telah mereka lakukan dalam urusan-urusan tertentu, dan tidak boleh seorangpun memprotes mereka dalam tugas mereka atau mencampuri urusan mereka”.
Diceritakan pula oleh para aghwaat, bahwa Pelayan Dua Tanah Suci Raja Fahd –semoga Allah merahmatinya- setiap tahunnya mengirimkan penghormatan kerajaan kepada mereka dan baju mantel yang disampaikan melalui pemimpin umum Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Oleh karena itu, kerajaan memberikan kepada mereka gaji yang cukup disesuaikan dengan jumlah harta wakaf yang dibagikan kepada mereka secara merata. Harta-harta wakaf mereka tersebar di Makkah al-Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, Jeddah, Thoif, dan Ahsaa. Mereka juga memiliki harta wakaf di Iraq, Maroko, dan Yaman, di mana ini semua adalah pemasukan yang melimpah bagi mereka dan menjadikan mereka hidup bahagia.
Hal-Hal Yang Perlu Untuk Diketahui
  • Menyusutnya jumlah aghwaat pada saat ini dikarenakan para pelayan dua tanah suci menghentikan penerimaan aghwaat baru agar orang-orang tidak berani mengebiri anak mereka.
  • Para aghwaat dikenal karena amalan mereka yang baik, dan ada pula di antara mereka yang dikenal karena ilmu dan pemahaman mereka dalam hal agama.
  • Di antara mereka ada yang dikenal karena kebaikan mereka, ada yang suka membantu orang-orang yang membutuhkan, di antara mereka ada yang membangun masjid-masjid, yayasan-yayasan, dan sekolah-sekolah. Dan ada sebuah Masjid Agha di perkampungan Quba yang masih baik dan ada hingga sekarang sebagai saksi kebaikan mereka, sebagaimana pula mereka mewakafkan tempat untuk fakir miskin dan masih menggunakan nama aghwaat.
  • Mereka dikenal dengan kekayaan materi, akan tetapi mereka tidak mewariskan dan mereka juga tidak berhak menghibahkan dan menggunakan harta mereka. Maka dengan kematian mereka, harta mereka beralih menjadi harta wakaf.
  • Mereka tidak memiliki keturunan, sehingga silsilah mereka berhenti dengan wafatnya mereka. Sebabnya adalah karena keluarga mereka telah menghadiahkan mereka untuk dua tanah suci setelah mereka mengebirinya.
Adakah Hak Bagi Mereka Untuk Menikah?
Seorang agha mempunyai hak untuk menikah, akan tetapi pernikahannya bukan untuk bersenang-senang, namun untuk mendapatkan seorang wanita yang akan merawatnya ketika ia sakit atau sudah lanjut usia, dan juga untuk mengurus seluruh urusan hidupnya. Pada umumnya, mereka menikah dengan orang luar dan menghadirkan istrinya bersamanya untuk mengabdi ke kerajaan. Ia merawat istri dan anak-anak istrinya serta mendidik mereka.
Pada saat ini tugas mereka hanya sebatas mengharumkan raudhoh dan menemani para tamu agung. Pada saat ini setiap pengunjung Masjid Nabawi dapat melihat mereka duduk dekat ruangan aghwaat, sisi kanan bagian dalam dari pintu Jibril. Adapun di Makkah, maka para peziarah akan dapat melihat mereka di tempat thawaf sebelum shalat maghrib, dan ketika shalat maghrib dan isya mereka berada di shaf pertama. Demikian pula ketika hari Jumat maka mereka dekat dengan mimbar Masjidil Haram. (AZ)[*]

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 1 th.IV

Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah

DIBACA 706 KALI, HARI INI 13 KALI

Cover Buku

PENYERANGAN TERORIS YAHUDI BANI ISRAEL KE KAPAL MAVI MARMARA ADALAH KEJAHATAN INTERNASIONAL, NAMUN TIDAK SEBERAPA JIKA DIBANDINGKAN DENGAN KEJAHATAN YANG TELAH DILAKUKAN TERHADAP KAUM MUSLIMIN PALESTINA SELAMA INI.

BAHKAN “YAHUDI MASIH LEBIH MEMILIKI BELAS KASIHAN DARI PADA SYIAH RAFIDHAH” KATA SEBAGIAN WARGA PALESTINA.

DAN “AMERIKA LEBIH BELAS KASIHAN DARI PADA SYIAH RAFIDHAH” KATA MUSLIM IRAK.

Telah nyata bagi orang yang berakal dan beriman bahwa: YANG PALING JAHAT TERHADAP ORANG ISLAM ADALAH YAHUDI DAN SYIAH RAFIDHAH (di Palestina, Lebanon dan Irak).

Maha benar Aallah dalam firman-Nya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." (Al-Maidah: 82)

Bagi anda yang ingin melihat raport kejahatan Yahudi di Palestina silakan baca di:

http://www.alazhar.gov.eg/forum.aspx?g=posts&t=223

Bagi anda yang ingin melihat daftar kejahatan dan kekejaman Syiah baca buku ini:

Cover Buku

Contoh Halaman Buku




sumber: http://qiblati.com/palestina-diantara-teroris-yahudi-dan-teroris-rafidhah.html

DOSA PAULUS TERHADAP YESUS

Oleh: DR. Wadi’ Ahmad

Aku memuji Allah yang telah memberikah hidayah kepadaku terhadap Islam setelah aku hidup sekitar 40 (empat puluh) tahun dalam kesyirikan agama Kristen. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, serta penutup para nabi, dan penghulu seluruh Rasul, dan aku bersaksi bahwa al-Masih, Isa putra Maryam (yang dipanggil dengan sebutan Yesus) adalah hamba Allah, dan Rasul-Nya kepada Bani Isarail.

Paulus Peletak Batu Pertama

Di antara perkara paling mengherankan yang ada di dalam al-Kitab milik umat kristiani adalah Surat-Surat Paulus yang dijadikan oleh setiap sekte Kristen sebagai alasan agar bisa berbeda dari sekte yang lain, dan bisa mengkafirkan serta memeranginya. Hal itu dikarenakan di dalam surat tersebut terdapat perkataan-perkataan yang tidak stabil dan bertentangan.

Saya katakan kepada orang-orang Kristen, bahwa surat-surat tersebut adalah penyebab kesesatan dan penyelewengan mereka dari agama yang asli (agama Nabi Isa/Yesus) kepada agama Kristen yang dibuat oleh Paulus untuk mereka. Yang demikian itu adalah berdasarkan pengakuan kitab Bibel mereka sendiri.

Setelah saya meneliti surat-surat tersebut, saya mendapatkan bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang Kristen sekarang tentang penyembahan mereka kepada al-Masih ternyata Paulus maupun para penulis Injil tidak pernah lancang mengatakannya, seperti:

  1. Paulus tidak pernah sama sekali menyebutkan bahwa al-Masih (Yesus) adalah Allah, bahkan dia selalu menjadikannya sebagai Tuhan setelah Allah (Tuhan Bapak).
  2. Paulus tidak pernah menyebut sama sekali bahwa Allah dan al-Masih (Yesus) adalah satu.
  3. Paulus tidak pernah menyebut bahwa al-Masih (Yesus) sejajar dengan Allah dalam dzat.
  4. Paulus tidak pernah sama sekali menyebut lafazh Tsaluts (Tiga serangkai): Allah (Tuhan Bapak), Yesus (Tuhan Anak), dan Roh Kudus, bersama-sama, atau bahkan lafazh Tatslits (trinitas).
  5. Seluruh surat Paulus mengakui bahwa Allah (Tuhan Bapak) adalah Yang Maha Besar, Yang Maha Utama, Sang Pencipta, Sang Pemberi Anugerah, Pelaku, Yang Maha Kuasa… dan seterusnya. Dan setelahnya datang al-Masih (Yesus, Tuhan Anak) sebagai obyek penderita dan yang selalu mengambil dari Tuhan Bapak.
  6. Paulus atau selainnya dari para murid tidak menyebutkan keyakinan kristiani tentang Bunda Maria (Maryam), karena mereka menjadikannya sebagai ibu bagi sesembahan atau Tuhan mereka dan menyebutnya Oum El Nour (Bunda Cahaya) sebagai isyarat kepada keyakinan ini. Dan “Cahaya” yang mereka maksud adalah Allah. Paulus telah meletakkan batu pertama bagi pondasi agama Kristen, yang kemudian para Pastur dan Pendeta membangun puluhan bangunan di atas batu pondasi tersebut.

Kisah Kehidupan Paulus:

Sebagaimana telah disebutkan kisahnya pada Bibel, yaitu pada Kisah Para Rasul (yang mereka maksud dengan istilah para Rasul adalah murid-murid Yesus), dimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul (9) bahwa Paulus yang nama aslinya adalah Saulus (Saul), dulunya adalah seorang tentara Yahudi fanatik yang memerangi dan membantai orang-orang yang beriman dengan risalah al-Masih (Yesus), dan hal itu terjadi beberapa tahun setelah kenaikan al-Masih.

Kemudian dia mengambil dari Kepala para imam Yahudi di Yerusalem kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik (Damaskus) agar mereka membantunya dalam menangkap setiap orang Kristen yang lari ke Damsyik. Kisah pelarian orang-orang Nasrani yang lari ke Damsyik tersebut tidak disebutkan kecuali oleh Injil Barnabas. Perhatikanlah, bahwa Yahudi kala itu berada di bawah penjajahan Romawi, lalu darimana kepala para Imam mereka, atau Paulus mendapatkan kekuasaan ini?! Di tengah perjalanan menuju Damsyik, memancarlah cahaya yang mengelilingi Paulus dan pasukannya; yaitu cahaya dari langit, lalu dia pun rebah ke tanah dan mendengar suara Yesus yang mengajaknya kepada iman. Kisah ini disebutkan dalam kitab Kisah Para Rasul yang sama hingga tiga kali, dan ketiganya adalah kisah yang kacau;

Kisah pertama; yaitu Kisah Para Rasul (9: 1-9) disebutkan bahwa orang-orang yang bersama dengan Saulus (Paulus) berdiri diam mendengarkan suara tersebut dan tidak melihat sesuatu pun[1]. Suara itu memerintahkan untuk masuk Damsyik, dimana dia akan tahu apa yang akan dia lakukan. Lalu dia pun diam di sana dalam keadaan buta selama tiga hari.

Kisah kedua; yaitu Kisah Para Rasul (22: 1-11) mengatakan bahwa orang-orang yang bersama dengannya tidak mendengar suara tersebut, akan tetapi mereka melihat cahaya dan ketakutan.[2]

Kisah ketiga; yaitu Kisah Para Rasul (26: 10-17) mengatakan bahwa karena kuatnya cahaya tersebut, Saulus (Paulus) dan orang-orang yang bersama mereka rebah ke bumi, dan suara itu mengatakan: Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan. (Kisah Para Rasul 26: 17-18)

Lalu diapun pergi ke Damsyik dan Yerusalem dan memerintahkan mereka untuk bertaubat kepada Allah?![3]

Adapun kebangsaannya, maka Paulus sendiri berkata bahwa dia adalah seorang Romawi (Kisah Para Rasul 16:37-38)[4] kemudian dia berkata bahwa dia adalah seorang Yahudi dari negeri Tarsus di Asia kecil (Kisah Para Rasul 21: 39)[5] kemudian dia kembali, dan berkata bahwa dia adalah seorang Romawi (Kisah Para Rasul 22:25)[6] kemudian dia kembali, dan berkata bahwa dia adalah seorang Yahudi Farisi, yaitu termasuk pemuka agama kaum Saduki (Kisah Para Rasul 23:6)[7] kemudian dia pergi ke negeri Ikonium di Asia kecil, dan di sanalah dia membuat gereje, kependetaan, dan keuskupan.

Kemudian dengan tiba-tiba dia mulai menyerang setiap orang yang menjaga pengamalan syariat Allah bagi Nabi Musa ‘alaihi salam, terutama khitan (Kisah Para Rasul 15:2)[8] di negeri Antiokhia yang di dalamnya dia membangun pondasi agama Kristen. Dimana dia berselisih dengan kaum Yahudi yang telah masuk Nasrani melalui kedua tangannya sebelum itu. Kemudian dia kembali ke Yerusalem bersama dengan Barnabas di mana dia berhasil meyakinkan Para Rasul (murid-murid al-Masih) agar mereka tidak memberatkan orang-orang yang baru beriman dengan menjaga seluruh syariat Taurat, dan agar mereka mencukupkan diri dengan mengharamkan berhala, dan apa yang disembelih untuk berhala tersebut, juga makan bangkai, darah, dan perzinaan. Kemudian berselisihlah Paulus dengan Barnabas, yang kemudian keduanya berpisah.

Kemudian mulailah Paulus bersifat munafik kepada setiap kelompok sesuai dengan keyakinan mereka. Dia pun mengkhitan muridnya, yaitu Timotius demi berbuat munafik kepada orang-orang Yahudi, setelah dia memerangi khitan. (Kisah Para Rasul 16)[9] dan aku tidak tahu apakah dia mengungkap hal itu kepada manusia untuk meyakinkan bahwa mereka telah dikhitan?!

Kemudian dia berbuat munafik kepada para penyembah berhala di Atena (Kisah Para Rasul 17) dan berkata seperti ucapan mereka, ‘kita berasal dari keturunan Allah[10] kemudian dia melihat satu berhala bertuliskan “Tuhan tak dikenal”, maka dia berkata kepada mereka, aku datang kepada kalian untuk memberikan berita gembira kepada kalian tentang tuhan ini?!

Dia adalah seorang munafik papan atas; saat dia berbicara dengan orang Yahudi, maka dia memuji Taurat, saat dia berbicara dengan orang Yunani, dia menyerang yahudi dan Taurat.

Di Turki (yaitu Korintus, dan Efesus) dia mendapati bahwa Rasul Yohanes (Yahya bin Zakaria) telah mendahului dia di sana dan telah mengajarkan agama kepada manusia. Kemudian mereka berkata kepada Paulus, ‘kami belum pernah mendengar tentang roh kudus.’ Maka dia pun mengambil mereka dan mengajari mereka bid’ah barunya dalam agama, yaitu tentang ketuhanan roh kudus dan pembaptisan. (Kisah Para Rasul 18 dan 19)

Kemudian dia kembali ke Yerusalem di mana para Rasul (murid al-Masih) menekannya karena dia mengajari manusia untuk meninggalkan syariat Taurat, dan para Rasul tersebut memerintahkannya untuk menampakkan kepada orang-orang Yahudi bahwa dia mempraktekkan syari’at Musa ‘alaihi salam (Kisah Para Rasul 21).

Kemudian, sekalipun demikian orang-orang Yahudi menangkapnya saat dia memasuki Kuil Solomon, kemudian mereka menyerahkannya kepada Wali Negeri guna mengadilinya. Di sinilah disebut “Syi’ah an-Nashiriyyin (sekte orang Nasrani)”, maksudnya adalah Nashara (Kisah Para Rasul 24)[11], dan dia berkata bahwa Paulus adalah pemimpinnya (Kisah Para Rasul 26), lalu Wali Negeri menuduhnya gila (Kisah Para Rasul 26:24)[12] kemudian dia mengirimkan kepada Kaisar di Roma untuk mengadilinya. Dan di sanalah kemudian dia tinggal selama dua tahun bersama orang Yahudi (Kisah Para Rasul (28:17)[13] padahal kitab yang sama menyebutkan bahwa Kaisar mengusir setiap orang Yahudi dari Roma beberapa waktu sebelum kejadian tersebut (Kisah Para Rasul 18: 2)[14]

Di sanalah dia mengucapkan kalimat terakhirnya kepada orang Yahudi: “Sebab itu kamu harus tahu, bahwa keselamatan yang dari Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya." (Kisah Para Rasul 28:28) yaitu bangsa-bangsa lain selain Yahudi akan mendengar, yaitu beriman kepada Allah. Sejarah Nasrani menyebut bahwa Paulus dibunuh dengan pedang di Roma. (AR)*


[1] Kisah Para Rasul (9:7) Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jua pun.
[2] Kisah Para Rasul (22:9) Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.
[3] Padahal pada Kisah Para Rasul (9:6) Yesus berkata, “Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." Demikian pula pada Kisah Para Rasul (22:10) disebutkan: Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.
[4]Kisah Para Rasul (16:37-38) Tetapi Paulus berkata kepada orang-orang itu: "Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warganegara-warganegara Roma, di muka umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang sendiri dan membawa kami ke luar." Pejabat-pejabat itu menyampaikan perkataan itu kepada pembesar-pembesar kota. Ketika mereka mendengar, bahwa Paulus dan Silas adalah orang Rum, maka takutlah mereka.
[5] 21:39 Paulus menjawab: "Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga dari kota yang terkenal di Kilikia; aku minta, supaya aku diperbolehkan berbicara kepada orang banyak itu."
[6] 22:25 Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: "Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?"
[7] 23:6. Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati."
[8] 15:1. Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
[9] 16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.
[10] 17:29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.
[11] 24:5 Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani
[12] 26:24. Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila."
[13] 28:17. Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: "Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma.
[14] 18:2 Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 11 Tahun V

SAUDI DI MATA SEORANG ULAMA SUNNAH

Oleh : Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i[1]

MUQADDIMAH[2]

Alhamdulillahi Robbil Alamin.. Amma Ba’du, sejak dulu saya merasa ragu-ragu untuk berbicara masalah yang hendak saya bicarakan ini, kemudian sesudah itu kuatlah azamku (untuk menyampaikannya), dan jika sekarang ini saya sedang sakit maka saya khawatir kalau-kalau aku meninggal dalam keadaan belum melepaskan tanggung jawabku dalam masalah ini.

Keamanan Dan Penegakan Syari’at Islam Di Negeri Saudi

KEAMANAN DI NEGERI SAUDI

Sesudah ini –semoga Allah menjaga kalian semuanya- aku merasa kagum tatkala aku dipindahkan ke Makkah. Ketika aku di Yaman ada empat penjaga di pintu, dalam keadaan seperti ini kami tidak merasa aman di rumah kami siang dan malam. Dan aku berada di hotel Darul Azhar di Makkah dalam waktu beberapa malam aku tidak bisa tidur, maka aku keluar ke Masjidil Haram di tengah malam seorang diri, aku merasakan kenikmatan, kelapangan, dan kelezatan yang tidak ada bandingnya, aku keluar sendirian walhamdulillah, aku berjalan, thowaf, shalat, dan tinggal selama aku mampu, kemudian aku pulang ke hotel. Inilah keamanan yang tidak pernah aku saksikan di negeri manapun sesungguhnya sebabnya adalah istiqomah di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pemerintah dan mayoritas penduduk negeri ini, maka sungguh benarlah Rabb kami Azza wa Jalla tatkala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia tentang Ahli Kitab.

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka, diantara mereka ada golongan yang pertengahan dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka” [Al-Maidah : 66]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [Al-A’raf : 96]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan mereka (orang-orang Quraisy) berkata : “Jika kami mengikuti pentunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami : (Allah berfirman Apakah kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dan segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” [Al-Qashash : 57]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” [Al-Ankabut : 67]

Rabbul Izzah juga berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia.

“Dan bahwasanya, jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [Al-Jin : 16]

Dan benarlah Rabb kami Azza wa Jalla yang berfirman dalam Kitab-Nya.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sahlih bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagai mana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [An-Nur : 55]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Rabb pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan’” [Al-Quraisy : 1-4]

Maka keamanan adalah nikmat yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, nikmat yang agung dari Allah Azza wa Jalla, sebabnya adalah istiqomah di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka perkaranya bahwa istiqomah .. tatkala negeri ini istiqomah –dan segala puji bagi Allah- maka Allah meneguhkan mereka bersamaan juga kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan kepada mereka teman kepercayaan yang baik, melindungi mereka dari teman-teman duduk yang jelek yang menghiasi kebatilan, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bermajlis dengan orang-orang yang baik dan mulia, dan meskipun barangkali datang dari mereka ucapan yang keras terhadap mereka, karena sebagaimana dikatakan : Temanmu adalah yang menasehatimu bukan orang yang membenarkanmu, dan musuhmu adalah yang membenarkanmu.

Maka selayaknya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana wajib atas penduduk negeri ini agar bersyukur kepada Allah, karena didalamnya ada sebagian orang-orang yang kadang-kadang mengikuti hawa nafsu mereka menuntut perkara-perkara dari ibahiyyah (penghalalan segala sesuatu) dan yang lainnya, tetapi semoga Allah membalas pemerintah dengan kebaikan karena aku telah melihat di dalam sebuah surat kabar bahwa Amir Nayif –hafidhahullah- beliau dimita agar mengadakan pencalonan wanita (dalam pemerintahan) maka beliau berkata :”Apakah kalian menghendaki orang laki-laki di rumah dan wanita keluar?! Tidajk ! ini adalah perkara yang jangan sampai kalian mengusahakannya”, beliau juga diminta agar mengadakan pemilihan umum, maka beliau berkata : “Kami melihatnya tidak membawa kebaikan di negeri-negeri tetangga, karena yang menang adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan harta”. Benarlah beliau, dan juga bahwa pemilihan umum adalah produk musuh-musuh Islam. Lembaga hak asasi manusia disambut dengan hangat oleh banyak orang dalam keadaan di dalamnya banyak kebatilan, kenapa? Karena artinya : Hukum-hukum had adalah kejam, dan artinya adalah membatalkan Kitab dan Sunnah serta memasukkan undang-undang yang berasal dari musuh-musuh Islam.

Pemerintah Saudi –semoga Allah memberikan taufik kepada mereka dalam setiap kebaikan- menerima Lembaga HAM ini dengan syarat dia tunduk kepada Islam dan tunduk kepada Kitab dan Sunnah, demikian juga tunduk kepada penegakan hukum-hukum had, sedangkan penegakan hukum-hukum had adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Kitab-Nya.

“Dan dalam qishah itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa” [Al-Baqarah : 179]

PENEGAKKAN SYARI’AT ISLAM DI NEGERI SAUDI

Ya! Pembunuhan sedikit sekali di negeri Saudi ini, demikian juga pencurian, di sini. Engkau letakkan mobilmu di sisi masjid atau di depan pintu rumahmu tidak ada yang mencurinya dan tidak ada apa-apa, adapun di negeri-negeri lain engkau parkirkan mobil kemudian sesudah itu engkau tidak melihatnya lagi, bahkan ada orang-orang yang merampas mobil tatkala dikendarai oleh pemiliknya, keamanan di negeri ini disebabkan oleh penegakkan hukum-hukum had, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, sebagaimana telah kalian dengarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan dalam qishah itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa”. Demikianlah seorang pencuri jika tahu bahwa dia akan dipotong tangannya maka dia tidak jadi mencuri, demikian juga seorang pezina jika dia tahu akan didera jika masih bujang atau dirajam jika sudah menikah maka akan berkurang perzinaan, tidak aku katakan tidak ada sama sekali tetapi aku katakan berkurang.

Demikian juga pemberian wewenang kepada Haiah Al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyi Anil Munkar (Badan Penegak Syari’at), kami melihat di dalam sebuah surat kabar bahwa Raja Fahd –hafidhahullah- memberikan 300 mobil kepada Haiah Al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyi Anil Munkar seraya berkata kepada mereka : “Kalian adalah para petugas untuk memerintahkan kepada yang ma’ruf sedangkan kami adalah bagian keamanan, kalian akan bertanggung jawab di hadapan Allah Azza wa Jalla”, maka semoga Allah membalas mereka dengan kabaikan. Ya! Mereka telah berbuat kebaikan kepada negeri mereka dan kepada daulah mereka, sesungguhnya wajib atas setiap mu’min di seluruh penjuru dunia agar bekerjasama dengan pemerintah Saudi ini walaupun hanya dengan ucapan yang baik, karena sesungguhnya musuh-musuh pemerintah Saudi banyak sekali dari luar dan dari dalam. Ya! Di sana ada orang-orang syahwaniyyun (pengikut hawa nafsu) ibahiyyun (yang menghalalkan segala sesuatu) dari dalam negeri, akan tetapi Allah menetapkan keteguhan daulah yang penuh berkah ini walhamdulillah, maka wajib atas setiap muslim agar bekerjasama dengan pemerintah Saudi ini.

Penegakan qishah dan yang lainnya dari hukum-hukum had adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada masyarakat, orang-orang memprotes kami jika kami tegakkan salah satu hukum had dari hudud dalam keadaan mereka menjerumuskan bangsa ke jurang kehancuran ! hukuman-hukuman had ini mashlahatnya adalah untuk perorangan dan masyarakat, bagi perorangan merupakan kaffarah sebagaimana dalam Shahihain dari hadits Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, dan dia bagi masyarakat adalah penjagaan terhadap harta, darah, dan kehormatan mereka. Ya! Engkau keluar ke pantai atau tempat mana saja di negeri ini engkau melihat seseorang dengan istrinya tidak takut gangguan siapapun.

Hukum-hukum had ini adalah mashlahat, tatkala ditiadakan di banyak negeri-negeri Islam maka mereka tidak bisa menanggulangi pencurian, tidak bisa menanggulangi kriminalitas, dan tidak bisa menanggulangi minuman-minuman keras dan narkoba, sebabnya karena tidak ditegakkan hukum-hukum had. Wallahu Musta’an.

PROYEK PEMBANGUNAN MASJID OLEH PEMERINTAH SAUDI

Yang lain lagi (dari kebaikan negeri ini) adalah proyek-proyek pembangunan masjid di negeri-negeri Islam dan yang lainnya, hanya saja kami nasehatkan kepada mereka jika mereka membangun masjid hendaknya diserahkan kepada ahli sunnah, karena jika mereka serahkan kepada Shufi maka dia justru akan mencaci pemerintah Saudi dan berkhotbah Jum’at dalam mencaci mereka, dan jika mereka serahkan kepada seorang hizbi maka akan dia manfaatkan untuk hizbiyyahnya, maka kami nasehatkan kepada mereka agar menyerahkan masjid-masjid ini kepada ahli sunnah yang mencintai pemerintah ini dan orang-orang para pelaksananya. –Kemudian Syaikh berkata- : Aku ucapkan ini dan tidak ada seorangpun yang mendorongku untuk mengucapkannya, dan tidak ada seorang pun yang mewajibkanku untuk mengucapkannya, tetapi ini dari diriku sendiri aku memandangnya sebagai kewajibanku untuk melepaskan tanggunganku.

PERHATIAN PEMERINTAH SAUDI TERHADAP PARA HAJI

Demikian juga perhatian mereka kepada orang-orang yang berhaji dan perluasan dua masjid tanah haram (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) dalam keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa yang membangun masjid Allah maka Allah akan membangunkan baginya yang semisalnya di surga” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 1/234 dan Tirmidzi dalam Jami’nya 2/134 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah]

Perhatian mereka terhdap urusan orang-orang yang haji dan penjagaan keamanan mereka, pemeriksaan di pintu-pintu Masjidil Haram, demikian juga tatkala sering terjadi kebakaran maka mereka mempersipakan kemah-kemah yang tahan api, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, dan puncak perhatian mereka adalah pesawat-pesawat terbang –tatkala kami di Mina- terbang di atas Mina dengan tujuan menjaga para haji, semoga Allah membalas mereka atas perhatian mereka ini.

Dan aku katakan ; Sesungguhnya engkau jika membaca di kitab-kitab ulama terdahulu dan sejarah-sejarah Makkah engkau akan melihat bahwa Abu Thahir Al-Qirmithi telah membunuh di Masjidil Haram sekitar (13 ribu orang) dan di Makkah dan sekitarnya semuanya sekitar 30 ribu orang, engkau akan membaca bahwa pada sebagian tahun orang-orang haji Mesir dilarang masuk, pada sebagian keadaan orang-orang haji Iraq dilarang masuk, dan dalam sebagian keadaan dilarang orang-orang haji Yaman. Tetapi tatkala pemerintah Saudi berkuasa –bihamdulillah- mereka menjaga musuh dan teman, mereka menganggap mereka semua adalah tamu-tamu Allah, dan kemudian tamu-tamu mereka, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan.

Sesungguhnya mereka patut disyukuri dalam hal itu, tidak ada seorangpun dari pemerintah-pemerintah yang ada semuanya, tidak ada seorang pun dari kita yang mampu melakukan hal ini, tetapi mereka –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan- bisa melaksanakannya, para pasukan keamanan disebarkan, para petugas juga disebarkan, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan –walhamdulillah- di antara mereka ada yang memakai seragam resmi dan ada yang berpakaian preman dengan tujuan mengawasi orang-orang yang haji –walhamdulillah-, ini adalah nikmat dari Allah kepada pemerintah ini. Aku telah menukil sebagian di dalam kitabku Ilhad Khumaini fi Ardhil Haramain sebagian dari ini aku maksudkan tentang kegelisahan para haji yang telah terdahulu. Al-Hakim Biamrillah Al-Abidi Al-Bathini mengutus seorang budaknya menohok Hajar Aswad dengan tongkat, kemudian sesudah itu berdiri di sekitar Hajar Aswad membunuh orang-orang yang menghalanginya dan yang hendak menangkapnya seraya berkata : Tidak Muhammad dan Tidak Ali!! Hingga dia dibunuh oleh dua orang Yaman.

SIKAP YANG BENAR DARI KAUM MUSLIMIN TERHADAP PEMERINTAH SAUDI

Maka sebagaimana telah terdahulu bahwa wajib atas setiap muslim di seluruh penjuru dunia agar bekerjasama dengan pemerintah Saudi ini, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam Kitab-Nya.

“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” [Al-Maidah : 2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya seperti sebuah bangunan saling menguatkan satu dengan yang lainnya” [Muttafaq Alaih dari hadits Abu Musa]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Permisalan orang-orang mu’min di dalam kecintaan, kasih sayang, dan belas kasihan di antara mereka seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 4/1999]

PEMERINTAH SAUDI MEMULIAKAN PARA ULAMA

Diantara hal lain yang merupakan kebaikan pemerintah Saudi adalah pemuliaan mereka terhadap para ulama, bapak mereka Abdul Aziz rahimahullah telah mewasiatkan hal itu, maka mereka menghormati para ulama dan memuliakannya dengan sesungguh-sungguhnya, akan tetapi di sana ada para ulama su’ yang mencela pemerintah Saudi dan kadang mereka kafirkan pemerintah Saudi, maka selayaknya dipilahkan di antara orang-orang berilmu mana yang berada di atas aqidah tauhid yang selayaknya dia ini dimuliakan, dan antara orang-orang yang berada di atas aqidah-aqidah bid’ah dan hizbiyyah, orang-orang hizbi ini –wahai saudara-saudara- adalah orang-orang yang jelek, mereka mencari-cari kesempatan untuk menyerang daulah ketika mereka memliki kesempatan, maka selayaknya orang-orang hizbi ini tidak diberi kesempatan samasekali, dan hendaknya mereka tidak dibantu pada kebatilan mereka, Allahumma jika sebagai sarana melunakkan hati mereka jika dipandang mereka akan kembali. Sesungguhnya pemuliaan pemerintah Saudi terhadap ulama merupakan manqobah (keutamaan) mereka dan kebaikan mereka terhadap daulah mereka serta bapak mereka (Abdul Aziz) sebagai pelaksanaan wasiatnya –Rahimahullah Ta’ala-, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, sungguh mereka telah menyambut kami dengan sebaik-baiknya, memuliakan kami dengan semulia-mulianya, mereka lakukan –Biidznillahi Ta’ala- segala hal yang berhubungan dengan pengobatan kami, dan pada hal-hal yang kami butuhkan, maka semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan.

HARAPAN UNTUK PEMERINTAH SAUDI

Aku memohon kepada Allah agar memberkahi mereka menjaga daulah mereka, memberikan keteguhan kepada mereka, memperbaiki mereka juga, dan memberikan teman kepercayaan yang baik kepada mereka, kami memohon kepada Allah agar memberikan kepada mereka teman kepercayaan yang baik, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi, sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” [Ali-Imran : 118]

Kami memohon kepada Allah agar memberikan kepada mereka teman kepercayaan yang baik, dan agar melindungi mereka dari para teman duduk yang jelek, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek adalah seperti penjual misik dan peniup tungku api, penjual misik adakalanya akan memberikan minyaknya kepadamu adakalanya engkau membeli darinya dan adakalanya akan engkau dapatkan darinya bau yang wangi, sedangkan peniup tungku api adakalanya akan membakar pakaianmu dan adakalanya akan engkau dapatkan darinya bau yang busuk” [Muttafaq Alaih]

Dan kami saat ini bukanlah hendak menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang bahaya teman-teman duduk yang jelek dan tentang keutamaan teman-teman duduk yang baik, akan tetapi kami nasehatkan kepada mereka agar selalu berusaha agar mendapatkan teman-teman duduk yang shalih yang menghendaki kebaikan bagi mereka dan bagi negeri-negeri Islam, karena sesungguhnya negeri Saudi ini merupakan benteng kaum muslimin dan tempat bersandar kaum muslimin. Dan sesungguhnya aku memuji kepada Allah bahwasanya mereka telah membuka hati mereka bagi para pendatang dari seluruh penjuru negeri, kami bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla, Wallahul Musta’an.

Sesungguhnya sebagaimana telah kami katakan : Hal yang mendorong kami untuk mengucapkan kalimat-kalimat ini adalah bahwa kami memandang bahwa wajib atas kami untuk mengucapkan al-haq, ini adalah kewajiban, dan jika tidak –maka demi Allah- aku tidak didorong oleh materi, tidak ada seorangpun yang mendorongku kepada hal itu, dan aku juga –bihamdulillah- tidaklah termasuk orang-orang yang terperdaya dengan perkataan, akan tetapi aku terkesan dengan perbuatan. Aku melihat perbuatan-perbuatan yang terpuji lagi luhur –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan- inilah yang membuat aku terkesan, wallahul musta’an. Ini dan kami memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kami dan kalian kepada apa yang dicintai dari diridhoi-Nya. Telah banyak pertanyaan yang terlontar kepadaku : Apakah engkau telah ruju’ (meralat) perkataan-perkataanmu (yang dulu) terhadap pemerintah Saudi? Maka (aku katakan) : Aku telah meralat perkataan-perkataanku yang dulu tentang pemerintah Saudi dan semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, adapun perkataan-perkataanku yang selainnya maka tidak aku ralat.


TAMBAHAN DAN PENUTUP

Kami lupa tentang sesuatu (yang belum kami sebutkan) : Yaitu yang datang di dalam sebagian surat kabar bahwa Amir Salman –hafidzhullah- mengumumkan bahwa dia telah mendera empat orang warga negara Inggris dan berkata : “Kami akan menerapkan syari’at Allah, silahkan marah orang yang marah”, demi Allah sungguh menakjubkan ! dan yang juga menakjubkan dari mereka bahwa mereka berani melakukan ini di saat banyak negara yang takut kepada Kantor Berita London, dan mengatakan bahwa dia adalah kantor berita dunia, banyak negara yang takut kepada Live News dan mengatakan bahwa dia adalah kantor berita dunia, adapun mereka (pemerintah Saudi) –semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan- menegakkan syari’at Allah, maka aku memohon kepada Allah agar menjaga mereka dan menjaga negeri mereka.

Hal lain yang aku lupa : Yaitu masalah rumah sakit-rumah sakit, kami telah melihat hal yang membahagiakan kami di rumah-rumah sakit –bilhamdillah- di setiap lantai ada masjid (tempat shalat)nya, dan kadang-kadang ada masjid khusus untuk laki-laki dan masjid khusus untuk para wanita, mereka patut disyukuri atas perhatian ini dan semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan, kemudian juga sesudah itu : Pembangunan rumah-rumah sakit di banyak negara, mereka telah membangun sebuah rumah sakit yang besar di negeri kami Yaman di Sho’dah yang bernama Rumah Sakit As-Salam, dan membangun lagi rumah sakit yang lain yang aku lupa namanya, dan ini dengan alasan .. agar pengobatan bisa gratis, penyinaran gratis, dan operasi gratis, maka mereka patut disyukuri atas hal ini, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan atas amalan yang agung ini yang mereka laksanakan wallahul musta’an, dan dengan ini maka selesailah walhamdulillahi Rabbil alamin, wa la haula wa la quwwata illa billah, jika terdapat kesalahan-kesalahan maka orang yang sakit layak diberi udzur, Wallahul Musta’an.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 1, Th. Ke-7 1428/2008. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]

__________

FooteNote

[1]. Diterjemahkan oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dari kaset yang berjudul Musyahadati fil Mamlakah Arabiyyah Su’udiyyah dengan perantaraan kitab Tabdid Kawasyifil Anid Fi Takfirihi Lidaulati Tauhid oleh Syaikh Abdul Aziz bin Ris Ar-Ris hal. 238-245

[2]. Judul-judul dalam huruf kafital merupakan tambahan dari penerjemah