Blogger templates

Bantahan Tuntas atas Syubhat Mujahidin Palsu " salafy agen yahudi "

oleh: Mujahid ak - Atsariy

“Artinya : Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak berkata (sesuatu) kecuali dusta” [Al-Kahfi : 5]

Orang-orang yang menebarkan isu dusta tentang adanya hubungan Dakwah Salafiyyah dengan zionis Yahudi (MOSSAD) melandaskan tuduhan mereka pada bukti-bukti dan cara pengambilan dalil yang keji, sekaligus konyol dan menggelikan. Dalam hal ini, dua bentuk dagelan telah dipertontonkan secara vulgar tanpa malu :

Pertama : Adalah “Suara Hidayatullah”, sebuah media masa yang cukup kesohor di tanah air. Dalam pemberitaannya [edisi 01/XVI/Rabiul Awwal 1424 hal. 78-79 ”Pengakuan AGEN MOSSAD”] telah memuat nukilan-nukilan sampah yang berisi fitnah bathil tentang adanya hubungan Dakwah Salafiyyah dengan Zionis Yahudi (MOSSAD). -na’udzubillah-

Kedua : Seorang pentolan Jama’ah Tabligh bernama “Amir Sunni” -yang lebih pantas disebut “Amir Bid’i”- juga telah menebarkan isu serupa di sebuah situs internet [file-nya ada pada kami-red]. Amir Bid’i yang telah lama berkecimpung dalam dunia khuruj (ala Jama’atut Tabligh), mimpi dan bualan-bualan antik kaum shufi, telah berkata dalam tulisannya yang ditujukan kepada kami : “ ….YAHUDI senang dengan Gerakan kalian. Sebab banyak mulut sedikit amalan. Ada juga yang NATO –Non Action Talking Only- dan saya juga mendengar bahwa kalian… Wahai saudaraku yang Salafy….. adalah antek-antek Yahudi….”.

Inilah dua bentuk dagelan yang kami maksudkan. Dan sejenak lagi Anda akan simak bagaimana kami menelanjangi pemeran-pemeran utama dalam aksi dagelan ini, sehingga kebenaran terungkap. Tidak lain hal ini kami lakukan untuk menutup pintu-pintu fitnah, berusaha semaksimal mungkin menetralisir keadaan sehingga bara fitnah ini tidak berkobar menjadi api yang membumbung diantara sesama Muslim, sekaligus sebagai nasihat bagi “Suara Hidayatullah” dan orang-orang yang ikut andil dalam menyebar fitnah ini.

Sebelum masuk pada inti bantahan; kami ingin merunut kronologi fitnah ini. Pertama, sang Agen menebarkan benih fitnah dan kedustaan. Kedua, pengakuan sang Agen Yahudi dimuat oleh Suara Hidayatullah (tanpa mencari kebenaran). Yang ketiga; Jama’ah Tabligh, hizbiyyin –fanatikus golongan- dll, menyambut gembira pemberitaan tersebut. Tiba-tiba mereka tergopoh-gopoh meng-copy, menyebarkannya, menempelnya di papan-papan kampus; bahkan seorang aktivis Jama’ah Tabligh (JT) dengan bangga mengirimkannya kepada kami.

“Artinya : Dan siapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.” [An-Nuur : 11].

Maka jangan terkejut jika kami akan membagi-bagikan bantahan kepada mereka yang telah memberi sumbangsih bagi menyebarnya fitnah dusta yang sangat mengerikan ini.

[A]. Suara Salafiyyin Buat “Suara Hidayatullah”
Majalah “Suara Hidayatullah” dalam tajuk yang telah kami sebutkan, menukil hasil wawancara yang dilakukan oleh harian Al-Hayat, London dan televisi LBC, Beirut yang kemudian hasil wawancara tersebut diterbitkan oleh Tabloid an-Nas no. 127. Tabloid al-Basya’ir edisi akhir Shafar 1424 atau awal April 2003 yang terbit di Sana’a, Yaman; kembali menurunkan wawancara tersebut yang selanjutnya dimuat oleh “Suara Hidayatullah dengan judul : Pengakuan Seorang Agen MOSSA D”, dimana Agen biadab yang punya saham atas meninggalnya banyak muslim di Palestina tersebut mengaku bahwa Dakwah Salafiyyah diperalat oleh Yahudi -ya Allah hancurkanlah kedustaan ini-. Berikut adalah bantahan kami terhadapnya yang kami susun dalam beberapa sub-judul :

[B]. Metode Pengambilan Dalil Yang Rusak
Harian Al-Hayat, Al-Basya’ir dan termasuk Suara Hidayatullah, mengambil berita dari seorang pengkhianat Agama yang fasiq lagi pendosa. Dia adalah seorang Palestin yang sudi bergabung dengan Zionis MOSSAD untuk menyembelih saudara sendiri demi wanita dan uang. Simaklah pengakuannya Paragraf 7. hal. 78] : “Di sana mereka (MOSSAD-red) menyambut saya di sebuah hotel bintang lima. Mereka memberi saya seluruh sarana kenikmatan. Tetapi mereka merekam saya ketika saya berada dalam kondisi memalukan dengan seorang wanita, hal ini sebagai salah satu cara mereka memperbudak dan mengendalikan saya di kemudian hari.”

Bantahan.
Pengakuannya yang seolah-olah tanpa dosa, menunjukkan kehidupan Agen biadab tersebut selalu ditemani oleh lumpur kemaksiatan. Akan tetapi Suara Hidayatullah (entah karena kebodohan atau dengan sengaja ingin meniup bara-bara kebencian diantara kaum muslimin) menukil lalu menyemprotkannya kepada khalayak tanpa tabayyun (mencari kejelasan) terlebih dahulu terhadap
kebenaran pengakuan seorang pendosa yang kelewat fasiq itu. Padahal Allah mengecam sikap seperti ini dalam firman-Nya.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [Al-Hujurat : 6]

Ketahuilah bahwa seorang yang fasiq apalagi pengkhianat agama tidak diterima kesaksiannya. [lihat penjelasan tentang hal ini dalam Kitabul Majmu’ Syarhul Muhadzdzab oleh Imam Nawawi 23/16 “Kitabu asy-Syahadah” cet. Beirut Libanon 1422 H / 2001].

Imam Muslim dalam muqaddimah shahihnya mengatakan setelah membawakan ayat tersebut : “ayat ini menunjukkan bahwa berita seorang yang fasiq, gugur tidak diterima” [Kitab Shahih Muslim, Muqaddimah : I/23 cet. Dar Ibnu Hazm, Beirut].

Rasulullah bersabda : “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar (tanpa mencari kejelasan).” [Shahih Muslim I/24, cet. Dar Ibnu Hazm, Beirut].

Sikap Suara Hidayatullah yang melansir berita tanpa mencari kejelasan terlebih dahulu, merupakan gambaran sikap para pendusta sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits tersebut. Hal ini tentu tidak lebih baik ketimbang tabloid-tabloid seronok yang memuat gosip, dan menebar racun ditengah-tengah kaum muslimin untuk meraup keuntungan. Sebaiknya Suara Hidayatulah mengganti judul pemberitaannya dengan kalimat berikut ini “Asalkan menyudutkan Salafy, berita dari Agen MOSSAD..kenapa tidak !!”.

Tidakkah kalian curiga terhadap agen ini, bukankah ia hasil binaan Yahudi ??, apakah kalian tidak curiga dalam kepalanya masih tersisa virus-virus pemikiran Yahudi ??, apakah kalian tidak mengira bahwa Yahudi jauh sebelumnya, telah mempersiapkan agen bekebangsaan Palistina ini sebagai bom terakhir jika tertangkap ??, bom yang akan meledak (tanpa kita sadari) jika ditanya ??, kenapa kalian bisa tertipu ??, bukankah kalian orang yang lebih mengerti tentang politik dan fiqhul waqi’??.


Alangkah mudahnya “Suara Hidayatullah” mengutip berita tanpa merasa curiga sama sekali terhadap wawancara dan hasilnya tersebut, yang dimuat oleh harian Al-Hayat; dimana harian tersebut tumbuh di kampong halaman zionis (Inggris-London), negara musuh Islam , negara pelopor dan pendukung berdirinya “Israel Raya”, negara yang punya andil dalam pembantaian kaum muslimin dan ulama’-ulama’ Islam dari zaman Bani Umayyah di Andalus, negara pelopor perang salib, negara penghancur Daulah Utsmaniyyah di Turki, negara penjajah negeri-negeri Islam, negara yang selalu memata-matai kaum muslimin, negara yang selalu membuka kancah “gozwul fikri” (perang pemikiran) di tengah-tengah kaum muslimin dan yang belum hilang bayangannya dari pelupuk mata, negara ini telah merebut Afghanistan dan Iraq dari pangkuan Islam, membantai kaum muslimin di rumah-rumah mereka sendiri dan merebut harta kekayaan mereka.

Kalau seandainya harian ini (Al-Hayat) harian yang bernafaskan Islam, maka Rasulullah telah berlepas diri dari mereka :

“Aku berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal bersama dengan orang-orang Musyrik -kafir- “ [Hadits Sohih Riwayat Abu Dawud, kitabul jihad, bab larangan membunuh orang yang menyelamatkan diri dengan bersujud. Dan At-Tirmidzi, kitabus siar, bab makruhnya tinggal di antara orang-orang
musyrik]

Kenapa ???, karena mereka rawan termakan syubhat dan propaganda orang-orang kafir, Jika seandainya badai “gozwul fikri” (perang pemikiran), di negeri kaum muslimin begitu dahsyatnya, sampai -sampai serangan pemikiran mereka (barat) meracuni dan membinasakan sebagian besar kaum muslimin, dan media-media masa kaum muslimin, maka bayangkanlah jik a hal ini berlangsungdisarang orang-orang kafir, bayangkan jika seseorang berada di pusat badai “ghozul fikri” katakan demi Rabbmu apakah mereka akan selamat ??

Wallahi.., sungguh pendalilan kalian dengan ucapan Agen fasiq lagi pengkhianat, merupakan pendalilan yang sangat rapuh dari segala sisi !!, lebih rapuh dari rumah laba-laba :

“Artinya : Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui” [Al-’Ankabut : 41]

Sungguh mengherankan; kami suguhkan kepada kalian (hizbiyyin); mutiara-mutiara petunjuk dari ayat-ayat Allah, hadits-hadits Rasul-Nya, penjelasan ulama-ulama salaf yang zuhud dan wara’, dengan hati yang tulus, ikhlas karena Allah semata, dan mengharap kebaikan bagi kalian;

“Artinya : Akan tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat” [Al-A’raaf : 79]

Maka tiba-tiba kalian geram dan berpaling, namun tatkala muncul satu fitnah dari seorang pengkhianat fasiq yang menyudutkan da’wah Salafiyyah, kalian terburu-buru untuk senyum dan tidak malu untuk berstatus “aktivis dan da’I biang gosip”. Sebenarnya kalian pilih yang mana..? Al-Qur’an dan Hadits ataukah kata si fulan,..kata si fulan..? yang notebene fasiq dan mengkhianati Islam itu ?.

“Artinya : Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?” [Al-Baqarah : 61].

[C]. Buku-Buku Salafy Biaya Yahudi ???
Dalam pengakuan Agen tersebut, (secara tidak langsung) memberikan opini kepada kaum muslimin bahwa pencetakan dan penyebaran buku-buku Salafy bersumber dari biaya Yahudi dan konco-konconya; yang dieksploitir untuk menyerang aktivis dakwah lainnya terutama Syi’ah. [Paragraf 13 hal. 79]

Bantahan :
Sungguh kami masih ragu apakah Agen yang diwawancarai tersebut telah bertaubat sepenuh hati, -kami berharap dia benar-benar bertaubat-, karena tidak ada ungkapan yang jelas dari lisannya bahwa ia telah insaf. Yang ada hanyalah ungkapannya : “…Apa gunanya penyesalan…” [Paragraf 22.hal.79]. Seolah-olah agen fasiq ini putus asa dari rahmat Allah,

“Artinya : Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” [Yusuf : 87]

Memang dia mengungkapkan kesedihannya tentang pembantaian muslimin oleh Yahudi yang bermula dari aksi spionase (mata-mata)-nya, namun sungguh sangat aneh, dari mulutnya justru keluar kalimat-kalimat propaganda MOSSAD; berupa fitnah taqrib (penyatuan sunni dan syi’ah) dan fitnah takfir (pengkafiran) yang diopinikan sebagai hasil perbuatan fanatikus sunnah (Salafy-red).

Kami justru masih diselimuti dugaan yang kuat bahwa sang agen adalah seorang pendukung Syi’ah yang berusaha membela Syi’ah dengan memfitnah dan memecah belah sunni, atau ia tidak mengerti perbedaan prinsip dasar antara Agama Islam dan Agama Syi’ah,atau ia masih menjalankan tugas spionasenya dari MOSSAD untuk semakin menambah keruh suasana, sekalipun telah tertangkap. Hal ini terlihat dari ungkapannya diatas yang menuduh buku-buku Salafy disokong oleh Yahudi.

Bagaimana mungkin Yahudi berada dibalik pencetakan dan penyebaran buku-buku Salafy, sementara kebanyakan buku-buku Salafy melaknat Yahudi, mencela sifat-sifat mereka, dan menjanjikan kehancuran bagi mereka di akhir zaman nanti. Jangankan berlindung di bawah payung Yahudi, bahkan buku-buku Salaf dengan membawa hadits-hadits shahih, menjatuhkan vonis “haram” dalam mengikuti gaya hidup Yahudi-Nashrani dalam ritual dan muamalah yang sudah menjadi ciri khas mereka. Seperti misalnya “Iqtidho’ Shirothol Mustaqiim” yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan ribuan buku salaf lainnya yang membahas Al-Wala’ wal Baro’ .

Dan bagaimana mungkin buku-buku salaf yang menyerang Syi’ah dibiayai oleh MOSSAD, sementara ulama salaf telah menulis bantahan terhadap Syi’ah sejak awal mula munculnya Syi’ah. Diantara mereka adalah Imam madzhab yang empat terutama Imam Ahmad dan Imam Syafi’i melalui murid-muridnya pada awal abad ke-3 H, Al-Imam Abu Hasan Al-Asy’ary (Maqolatul Islamiyyin, dan Al-Ibanah), Ibnu Taimiyah melalui kitabnya Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah fi naqdhi kalamisy Syi’ah wal Qodariyyah, Ibnu Hajar Al-Asqalany melalui kitabnya At-Tahdzib (2/49), Ibnu Qayyim dan Adz-Dzahabi (hampir disetiap bukunya menyindir, dan membantah mereka) pada abad ke-7 H, dan puluhan imam salaf lainnya (dalam buku-buku aqidah mereka). Lalu , apakah MOSSAD telah lahir dan telah menjalankan aksinya pada kurun waktu tersebut ??.

Dan sang agen sendiri tidak membawa bukti dan data-data yang akurat (hitam diatas putih), hanya bualan berbau busuk yang dengan senang hati ditelan mentah-mentah oleh orang-orang yang kelewat bodoh, pandir, yang tidak kritis, tidak obyektif, tidak punya prinsip yang pasti dalam mengambil dalil dan hujjah, yang dadanya telah sempit oleh dengki, iri, dan hasad, yang senang menebar fitnah, yang benci da’wah tauhid, yang benci kembalinya ummat ini kepada kejayaan diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah yang suci, yang hatinya penuh dengan noda-noda hitam yang menutupi mereka dari nasehat-nasehat, ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya.

Dakwaan belaka tanpa mendatangkan bukti yang kokoh, ibarat engkau mengayunkan pedang tumpul. Hanya bisa menimbulkan kepanikan dan kerisauan namun tak mampu unjuk gigi. Ibarat srigala tua yang ompong, hanya bisa melolong. Sungguh dia telah berdusta terhadap dakwah para Nabi, dan cukuplah itu dikatakan sebagai bentuk kedustaan atas nama Allah :

“Artinya : Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah ?”. [Az-Zumar : 32].

Dari sini jelas bahwa Agen fasiq tersebut menginginkan berkobarnya api fitnah dan peperangan di dalam tubuh Islam, sebagaimana yang dikehendaki “sang Tuan” (MOSSAD), dengan cara menciptakan opini, menyemai prasangka buruk dihati-hati kaum muslimin, sehingga menumbuhkan perselisihan dan pertumpahan darah dikalangan sunni sendiri, dan ujung-ujungnya mematikan dan menjauhkan kaum muslimin dari dakwah tauhid dan usaha mengembalikan ummat kepada sunnah yang suci, yang sangat diperjuangkan oleh Da’wah Salafyyah, yang merupakan pondasi dasar bagi berdirinya daulah Islamiyyah yang kokoh.

“Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah dirdhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku, dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [An-Nuur : 55]

Rasulullah bersabda : “Telah kutinggalkan bagi kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam” [Al-Muwatho’, Imam Malik 2/299, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi,
cetakan Beirut Libanon]

[D]. Justru Syi’ah, Agen Yahudi Nomor Wahid!
Sang Agen juga mengatakan bahwa buku-buku salaf dibiayai oleh MOSSAD untuk menimbulkan pertempuran marginal antara aktivis Islam, khususnya antara Syi’ah dan Sunnah [Paragraf 14 hal. 79]. Lebih lanjut “Sang Agen” menuturkan : “..(agar) hati mereka (kaum muslimin) penuh dengan kebencian terhadap saudara muslim baik Sunnah maupun Syi’ah.” [Paragraf 16 hal. 79].

Bantahan :
Jawaban kami dalam masalah ini akan memakan halaman yang panjang. “Maka simaklah ..!!” Kami berharap ada diantara kalian yang sudi membuka jendela hati untuk menerima hujjah. Karena jika tidak, maka ketahuilah bahwa :

“Artinya : Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” [Al-Hajj : 46].

Ada satu hal yang mesti dikritisi dari ucapan “Sang Agen” ; perkataan itu memberikan kesan kepada kaum muslimin bahwa Syi’ah adalah bagian dari Islam, dan seorang muslim bersaudara dengan orang Syi’ah.

Maka kami katakan “Demi Dzat yang menguasai hari pembalasan, Syi’ah Rafidhah yang banyak tersebar di zaman ini (Sebagian besar Syi’ah pada zaman ini adalah Rofidhoh) telah dikafirkan oleh ribuan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sejak dulu sampai saat ini. Allah sendiri telah mengakfirkan mereka melalui firman-Nya :

“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia (para Sahabat-red) adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)”[Al-Fath : 29].

Berdalil dengan ayat ini, Imam Malik menegaskan tentang kafirnya kaum Syi’ah Rafidhah,karena mereka begitu jengkel dan benci terhadap sebagian besar Sahabat; bahkan mereka mengkafirkannya [lihat Tafsir Ibnu Katsir 7 : 3259 cet. Daar Ibn Hazm].

Seorang pentolan Syi’ah telah mengukir “puisi-puisi kebencian dan cacian” terhadap Umar bin Khattab dalam bukunya yang diberi judul : “’Iqdud Durar fi Syarhi Baqri Bathni ‘Umar” (Rangkaian Mutiara dalam penjelasan kasus robeknya Perut Umar); Dan lihat pula Kitab Tuhfat ‘Awam Maqbul yang di dalamnya terdapat do’a la’nat bagi 2 berhala Qurasy (Abu Bakr dan Umar), buku ini telah direkomendasikan oleh Al-Khumaini. Sebuah ungkapan yang hanya muncul dari mulut-mulut berlidah iblis.

Bahkan Abu Hafs Ibn Syahin (wafat 385 H/995 M) mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib membakar sejumlah orang ekstrim Syi’ah dan mengasingkan sebagian besar mereka. Diantara yang diasingkan tersebut terdapat Abdullah bin Saba’ [1]. Mereka lebih na’jis dan lebih berbahaya ketimbang Yahudi, karena mereka adalah produk Yahudi yang dikemas dengan pakaian Islam, merupakan virus ganas yang disemprotkan Yahudi untuk menghacurkan Islam. Kami tidak ragu untuk mengatakan : “Syi’ah adalah Yahudi plus”.

[E]. Sekilas Tentang Syi’ah..
Asal tahu saja, bahwa sang deklarator Agama Syi’ah adalah Abdullah bin Saba’ ; seorang gembong Yahudi yang berpura-pura masuk Islam di zaman kekhalifahan Utsman. Dengan kedok kecintaan terhadap Ali, ia mulai menebarkan jentik-jentik kesesatan di tengah kaum muslimin waktu itu. Keberadaan Abdullah bin Saba’ sebagai seorang Yahudi, diakui sendiri oleh petinggi-petinggi Syi’ah dalam buku-buku mereka seperti “Firaq Asy-Syi’ah” [hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah, Najef 1379 H], begitu pula dalam kitab mereka yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Syi’ah dan Yahudi adalah “dua sejoli” yang sangat lengket dan mesra. Berikut adalah beberapa kemiripan diantara mereka berdua :
[1]. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi’ah; mereka mempunyai Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka sendiri yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin. Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat
[2]. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [Maryam : 28], Syi’ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi’ah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”
[3]. Yahudi mengatakan, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja”. [Al-Baqarah : 80] Syi’ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi’ah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Khithab
(hal.157)”
[4]. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak tahu, begitu juga dengan Syi’ah
[5]. Yahudi berkeyakinan bahwa ucapan “amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syi’ah juga beri’tiqod yang sama.
[6]. Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syi’ah.
[7]. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam, cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi’ah juga mengamalkan hal yang sama.
[8]. Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syi’ah.
[9]. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal.Syi’ah Rafidhah mengatakan, ”Tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam ghaib Syi’ah yang ditunggu-tunggu”
[10]. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi’ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.
[Lihat kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah lil Yahud, oleh Abdullah Al-Jumaily].

Ahmad bin Yunus (wafat 227 H), salah seorang tokoh ulama Ahlus Sunnah di kufah telah berkata : “Seandainya; seorang Yahudi menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi (Syi’ah) menyembelih seekor binatang, niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam (namun masih mengaku Islam-red).” [Ash-Sharimul Maslul, hal. 570].

Imam Bukhari berkata : ”Bagiku sama saja, apakah aku sholat dibelakang orang yang berfaham jahmiyyah atau Syi’ah Rafidhah, atau aku sholat dibelakang orang Yahudi atau Nashrani. Dan seorang muslim tidak boleh memberi salam kepada mereka, menjenguk mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi, dan memakan sembelihan mereka.”(Khalqu Af’alil ‘Ibad hal:125, karya Imam Bukhari ).

Ada sebuah tanda tanya besar yang sangat menggelitik; “Mengapa Agen tersebut “terburu-buru” membeberkan propaganda-propaganda MOSSAD, sementara di satu sisi dia mengangkat opini bahwa Syi’ah adalah saudara bagi umat Islam ?? Dan bersamaan dengan itu dia mengecam dakwah Salafiyyah yang membongkar “permainan mata” antara Yahudi dan Syi’ah ??”. Ini tidak lain dia lakukan untuk menutupi kedok Syi’ah sehingga artileri ganas Yahudi tersebut tetap eksis. Hal inilah yang tidak disadari oleh Suara Hidayatullah.

Telah jelas betapa berbahanya slogan-slogan yang menyerukan taqrib, dan kami harapkan hizbiyyin tidak akan terkejut jika kami akan menampilkan “tokoh-tokoh”, yang mereka masuk dalam jajaran inspirator taqrib (pendekatan) antara Sunnah dan Syi’ah. Salim Al-Bahnasawi (penasehat Al-Ikhwan) dalam kitabnya As-Sunnah Al-Muftaro ‘Alaiha hal. 57 berkata : “Semenjak berdirinya forum pendekatan antara madzhab Islam yang memiliki andil di dalamnya “Imam” Al-Banna, dan “Imam” Al-Kummi (tokoh Syi’ah -red), dan kerja sama terjadi antara Ikhwanul Muslimin dan Syi’ah; yang menghasilkan kunjungan Imam Nawwab Shofawi (tokoh Syi’ah -red) tahun 1954 ke Kairo”.

Lagi-lagi kasus taqrib ini diangkat ke permukaan oleh Umar Tilmisani (mursyid ke-3 Al-Ikhwan) melalui penjelasannya tentang usaha pendekatan Sunnah dan Syi’ah yang dilakukan oleh Hasan Al-Banna dalam kitabnya “Al-Mulham Al-Mauhub Hasan Al-Banna hal. 78”

Wahai Muslimin ! Jika telah jelas bagi kita bahwa Syi’ah berasal dari Yahudi dan menjalankan misi Yahudi untuk menikam Islam dari dalam, maka tindakan Suara Hidayatullah dan orang-orang yang menanam investasi dalam penyebaran fitnah dusta pemberitaan tersebut, memutlakkan beberapa
konsekuensi yang sangat buruk sebagai berikut :

[1]. Sadar atau tidak sadar, pemberitaan “Suara Hidayatullah” telah membantu merusak Islam dari dalam, karena membiarkan berkembangnya opini bahwa Syi’ah yang notabene merupakan kloning Yahudi adalah saudara kita. Padahal mereka adalah musuh-musuh Islam. Allah berfirman :

“Artinya : Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”[Al-Maidah : 2].

[2]. Sadar atau tidak sadar, pemberitaan “Suara Hidayatullah” telah melemahkan kekuatan kaum Muslimin di hadapan Yahudi karena telah menjembatani taqrib; sebuah usaha untuk mengkompromikan Sunnah dan Syi’ah. Jika ini terwujud, maka mau tidak mau umat Islam harus toleran terhadap Syi’ah yang menganggap tidak ada Jihad selama Imam “khayal” mereka belum diutus. Terhapusnya kalimat-kalimat jihad dari kamus Islam merupakan impian Yahudi sepanjang zaman. Dan “Suara Hidayatullah” tanpa disadari telah membantu untuk mengikis kalimat-kalimat itu sedikit demi sedikit dari kamus Islam.-na’udzubillah-.

[3]. Pemberitaan “Suara Hidayatullah” berdampak buruk bagi kelangsungan jiwa Ahlussunnah dan umat Islam secara umum. Karena telah diketahui bersama bahwa Syi’ah menghalalkan darah Ahlussunnah dan mengkafirkannya sebagaimana Yahudi menghalalkan darah kaum Muslimin.

[4]. Pemberitaan “Suara Hidayatullah”, telah menanam prasangka buruk orang-orang awam dan dapat mengakibatkan menjauhnya ummat dari dakwah Salafiyyah yaitu dakwah yang mengajak kepada persatuan Islam dibawah naungan Tauhid, Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut apa yang dipahami oleh para sahabat, dan hal ini telah menjadi kenyataan ketika sebagian masyarakat awam menolak buku-buku tauhid yang dibagikan secara gratis.

[5]. Dengan pemberitaan tersebut, maka akan semakin mengaburkan jurang perbedaan antara Sunnah dan Syi’ah, dan ini sangatlah berbahaya. Sebab, kaum muslimin akan digiring kepada sebuah pemahaman bahwa Syi’ah bersama atribut aqidah dan ritual mereka yang busuk merupakan bagian dari Islam. Yang berarti aqidah Sunnah dan aqidah Syi’ah sama saja, mau pilih Sunnah atau Syi’ah boleh-boleh saja. Padahal Allah berfirman :

“Artinya : Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” [Al-Qalam : 35]

[6]. Sadar atau tidak sadar “Suara HIdayatullah” telah menyebarkan fitnah dan kedustaan. Media massa yang seperti ini tidak bisa dijadikan sumber ilmu dalam memahami Islam, sebagaimana perkataan Imam Muhammad ibnu sirin yang dilansir oleh Imam Muslim dalam muqodimmah kitab shohihnya :

“Sesungguhnya ilmu (Syar’i) ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat (berhati-hati), dari siapa kalian mengambil agama kalian” [MuqoddimahShohih Muslim,hal 28, cet. Daar Ibn Hazm]

Maka kami nasehatkan kepada kaum muslimin untuk berhati-hati dari bahaya pemberitaan yang dibawa oleh “Suara Hidayatullah”.

Kami tidak akan mencabut pernyataan kami ini kecuali “Suara Hidayatullah” mau mengklarisifikasi pemberitaan-pemberitaan yang memojokkan da’wah Salafiyyah, dan mau kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman sahabat Rasulullah.

[F]. Siapa Sebenarnya “TAKFIR MANIA” itu ??
Masih dalam pemberitaannya, Suara Hidayatullah menukil hasil wawancara dengan sang Agen : “Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan (takfir -red) antar pihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingan sesama mereka…” [Paragraf 16, hal. 79].

Bantahan :
Jika yang dimaksud dengan pernyataan tersebut adalah buku-buku salaf -dan tampaknya itu yang diinginkan sang Agen dan orang-orang yang meng-copy pemberitaan ini-; maka ini adalah fitnah klasik yang coba dibangkitkan kembali gaungnya untuk memojokkan da’wah Salafiyyah.

Baiklah….!! Akan kami perjelas duduk perkara yang sesungguhnya. Akan tetapi kami memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menghirup nafas sedalam-dalamnya; karena akan muncul banyak “kejutan” dalam jawaban kami terhadap tuduhan dusta tersebut. Sekaligus sebagai “hidangan penutup” bagi Suara Hidayatullah dan hizbiyyin (fanatikus golongan) atas sumbangsih mereka dalam menebarkan fitnah keji sang Agen.

Seribu satu macam keheranan telah menghantui kami; tatkala da’wah Salafiyyah melalui da’wah dan buku-bukunya diopinikan sebagai biang keladi fitnah dan takfir (pengkafiran) antar sesama muslim. Ini merupakan tikaman yang kedua, setelah sebelumnya pada tikaman yang pertama, hizbiyyin menggerayangi da’wah Salafiyyah dengan tuduhan buku-buku salaf bersumber dari Yahudi (MOSSAD).

Insan-insan yang ikhlas dan jujur dalam berusaha menempuh jalan para pendahulu yang shalih, sangatlah berhati-hati dalam memvonis kaum muslimin yang jatuh ke lembah bid’ah dan kekufuran; sebagai ahlul bid’ah atau ahlu syirk. Bukanlah dikatakan seseorang itu Salafy jika dia selalu mengumbar kalimat-kalimat takfir (pengkafiran secara sporadis, radikal dan membabi buta -red) tanpa dilandasi ilmu yang kokoh. Justru jama’ah-jama’ah yang mengambil bagian dalam penyebaran isu dusta tentang hubungan Salafiyyah dengan Yahudi memiliki karakter yang kental dalam masalah takfir ini. Kami
tahu dengan pasti bahwa Suara Hidayatullah dengan latar belakang sejarahnya sampai kini, adalah penggemar-penggemar Sayyid Quthub, seorang tokoh legendaris Ikhwanul Muslimin yang memendam dan menyebarkan bid’ah takfir (pengkafiran) yang sangat radikal dan sporadis.

Tentang takfir ini, Sayyid Quthub mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin, termasuk para muadzin yang selalu mengumandangkan kalimat tauhid. Hal ini dapat dilihat pada tulisannya. Diantara pernyataan dia, ialah :

“Manusia telah murtad, (keluar dari Islam- red) kepada menyembah mahluk (paganisme) dan berbuat jahat terhadap agama serta telah keluar dari kalimat laa ilaha illa Allah. Walapun sebagian mereka masih mengumandangkan laa ilaha illa Allah diatas tempat beradzan. [Fii Zhilalil Qur’an 2/1057, cet. Darusy Syuruq).

Simaklah ucapan Sayyid Quthub tersebut ..!! Kami, kalian dan tidak terkecuali para muadzin di rumah-rumah Allah yang mengumandangkan nama-Nya; mendapat bagian dari rudal-rudal pengkafiran Sayyid Quthub. Dia begitu royal dalam mengkafirkan kaum muslimin secara mutlak dan global; hanya karena perbuatan dosa besar dan tindakan berhukum dengan hukum selain Allah; tanpa memberikan perincian sebagaimana Ahlussunnah memberikan perincian dalam masalah ini. Lalu apa yang dimaksud oleh Sayyid Quthub dengan ungkapan “manusia telah murtad (keluar dari Islam) kepada penyembahan
makhluk” ?? Pernyataannya berikut ini akan memperjelas bagaimana sebenarnya latar belakang pemikiran bid’ah Sayyid Quthub sehingga mencetuskan kalimat pengkafiran tersebut :

“Manusia yang menganggap dirinya muslimah masuk ke dalam masyarakat jahiliyah, bukan karena menyakini uluhiyah kepada selain Allah. Bukan pula karena menunjukkan syiar-syiar peribadatan kepada selain Allah subhaanahu wa ta’ala, akan tetapi mereka masuk ke dalam lingkup ini (kekafiran-red) karena tidak beribadah kepada Allah saja dalam hukum-hukum kehidupan (tidak berhukum dengan hukum Allah, dalam kehidupan sehari-hari -red).” [Ma’alim fi Thariq, hal.101, cetakan Darusy Syuruq].

Jelas dari ungkapannya ini, Sayyid Quthub mengarahkan “bedil takfir” kepada seluruh kaum muslimin yang tidak sesuai dengan pemikirannya.

Sayyid Quthub menyelisihi Salafus Shalih dengan menganggap sebab kafirnya manusia bukan karena peribadatan kepada selain Allah. Tetapi tidak lain disebabkan oleh berpalingnya manusia dari apa yang diistilahkan dengan “Tauhid Hakimiyah” ; sebuah istilah baru yang kemudian dipopulerkan oleh “QFC” (Quthub Fans Club). Namun sebelum itu semua, kami ingin meyakinkan kepada orang-orang yang menuduh buku-buku salaf sebagai biang fitnah dan pengkafiran (takfir) : “Justru Sayyid Quthub, tokoh yang kalian elu-elukan sebagai Asy-Syahid adalah seorang “maniac” dalam masalah takfir (kafir-mengkafirkan)”.

Jika kalian butuh bukti, kami harapkan ucapan-ucapan Sayyid Quthub berikut ini akan menyingkap tabir keraguan :

“Orang yang tidak mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hakimiyah disemua zaman dan tempat adalah orang-orang musyrik. Tidak keluar mereka dari kesyirikan ini, walaupun mereka berkeyakinan terhadap laa ilaaha illallah dan tidak punya syiar (peribadatan) yang mereka tujukan kepada selain Allah subhanu wa ta’ala” [Fii Zhilalil Qur’an 2/1492,cetakan Darusy Syuruq].

Masih belum yakin juga ….!! Bagaimana dengan yang ini :

“Dipermukaan bumi ini, tidak ada satu pun negara Islam dan tidak pula masyarakat muslim” [Fii Zhilalil Qur’an, 2/2122].

Entah bagaimana harus meyakinkan kalian jika yang satu ini masih juga belum cukup :

“Manusia telah kembali kepada kejahiliyahan dan keluar dari laa ilaaha illallah…… Manusia seluruhnya, termasuk orang-orang yang mengumandangkan kalimat laa ilaaha illallah pada adzan di timur sampai barat bumi ini tanpa pengertian dan pembuktian nyata , bahkan mereka ini lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad kepada penyembahan makhluk, setelah jelas bagi mereka petunjuk dan setelah mereka berada di agama Allah” (Fii Dzilalil Qur’an 2/1057, cet. Darusy Syuruq).

Lalu siapakah sebenarnya diantara kita yang “getol” dalam masalah kafir-mengkafirkan itu?

[G]. Salafiyyin, Antek Zionis (Yahudi) ??
Masih dalam pemberitaan Suara Hidayatullah, sang Agen kembali beraksi dalam drama fitnahnya dengan berkata : “…Anda dapat melihat kira-kira semua masjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dibagikan secara gratis bahwa ini semua dibiayai oleh para donatur Saudi padahal MOSSAD ada dibelakang semua ini.” [Paragraf 17 hal. 79].

Bantahan :
Perkataan ini menimbulkan opini bahwa da’wah Salafiyyah melalui buku-bukunya, didanai oleh MOSSAD melalui kerajaan Saudi Arabia. Namun orang-orang yang sudah ada penyakit dalam hatinya menafsirkan
kalimat-kalimat berbisa dari mulut agen ini sehingga sesuai dengan tuduhan-tuduhan basi mereka.

Fitnah ini pernah diungkapkan oleh Laskar Hikmatiyar, di Harian mereka “Syahadat”, no. 338, tanggal 28 Dzul Qo’dah 1411 H, dibawah judul “Kesempatan masih ada” dan pernah pula diucapkan oleh Muhammad Surur Zainal Abidin, dia adalah seorang Ikhwany (kepadanyalah nisbat pemahaman Surury), yang dengan senang hati pindah dari negara Islam, negara kaum muslimin, negara yang penuh dengan ulama’, negara yang ada dua kota suci kaum muslimin di dalamnya, negara yang menegakkan Syari’at Islam (Saudi Arabia) menuju negara kafir, kampung halaman zionis (Inggris) di kota Birmingham dan mendirikan markaz hizbinya yang bernama Al-Muntada Al-Islami, kemudian dari sana dia menghembuskan racun-racun fitnah kesetiap negeri-negeri kaum muslimin, memicu perpecahan antara aktivis-aktivis da’wah dengan pemerintah, sehingga mereka sibuk mengkafirkan penguasa muslim mereka, dan melupakan menuntut ilmu, dan da’wah tauhid. Bukankah hal ini akan membuat Yahudi tersenyum gembira ?? Sehingga mereka tidak harus susah payah merogoh kantong untuk membiyai mega proyek dengan tema utama : “Bagaimana memecah belah kekuatan Islam”. Muhammad Surur yang bermarkas di Inggris bersama pendahulu-pendahulunya yang memiliki pemikiran Sayyid Quthub, punya andil besar dalam pertumpahan darah di dunia Islam antara penguasa muslim dan rakyatnya yang muslim. Hal inilah yang terjadi di Mesir, Suriah, Tunisia, Al-Jazair dan hampir terjadi di negeri tauhid Saudi Arabia. Ini semua disebabkan oleh pengkafiran membabi buta terhadap penguasa muslim yang dilakukan oleh para pengagum pemikiran Sayyid Quthub. Akhirnya Yahudi tidak perlu turun tangan untuk menghancurkan kaum muslimin secara langsung.

Muncul sebuah pertanyaan besar yang sangat menggelikan; bagaimana mungkin markas Muhammad Surur ini di biarkan oleh Inggris muncul di salah satu pusat pemerintahan mereka ? Apakah agen-agen zionis Inggris tidak tahu tentang kegiatan da’wah Al-Muntada ? Atau, apakah Inggris memiliki kepentingan zionisme dengan membiarkan mereka menyerang negeri muslim dengan pemikiran sesat sebagaimana Inggris membiarkan ajaran sesat Ahmadiyah yang merusak aqidah kaum muslimin di seluruh dunia; dimana Ahmadiyah juga bermaskas di Inggris.

Kemudian fitnah ini diadopsi dan disebarkan oleh orang-orang yang tidak suka terhadap da’wah salafiyyah, sehingga para pemuda yang terburu-buru “terjun” ke medan da’wah dan politik termakan oleh fitnah ini (Bahwa Saudi adalah antek AS-Yahudi). Maka tanyakanlah kepada da’i-da’I kalian, bukankah sebagian dari mereka sekolah dengan dana-dana dari Arab Saudi ??, sehingga diantara mereka ada yang kuliah di Saudi dengan beasiswa pemerintah Saudi, bukankah sebagian diantara mereka bekerja di lembaga-lembaga yang dibiayai oleh Arab Saudi ??, bukankah sebagian dari mereka mendapat gaji sebagai da’i dari lembaga-lembaga yang dibiayai oleh Arab Saudi ???, seperti Atase Agama Kedutaan Arab Saudi, Robithoh Al-Alam Al-Islamy, Haiatul Igotsah Al-Islamiyyah, Yayasan Al-Haramain. Bahkan ada diantara mereka berangkat menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi Raja Fahd bin Abdul Aziz . Kenapa kalian tidak mengatakan mereka antek-antek zionis karena menggunakan dana-dana Saudi ??

Kalian mendirikan sekolah di desa Toya, Lombok Timur (NTB), yang tenaga pengajar sebagian besar adalah da’i-da’i kalian, dan siswa-siswanya-pun dari teman-teman kalian. Sekolah ini dibiayai oleh Lajnah-Da’wah dan Ta’lim (L-DATA) cabang Jakarta, yang pusatnya di Riyadh-Arab Saudi, tanyakan kepada da’i-da’i kalian jika mereka bisa berbicara !!!, niscaya mereka akan mejawab “ya” dengan “malu-malu”, atau akan menjawab “tidak” (berdusta pada kalian), jika kalian belum puas kami dapat membawakan nama-nama mereka dengan bukti yang akurat. Apakah kalian akan mengatakan mereka (dai-dai kalian) sebagai antek-antek zionis, karena mereka mendapat gaji dari Saudi Arabia ??

[H]. Siapa Sebenarnya Yang “Main Mata” Dengan Yahudi ??
Kalian telah menuduh da’wah Salafiyyah punya hubungan dengan Yahudi. Maka kini kesempatan kami dengan bukti-bukti yang kokoh untuk menunjukkan bagaimana sesungguhnya sikap tokoh-tokoh kalian terhadap Yahudi.

Hasan Al-Banna berkata :
“…Maka saya mengulangi, sesungguhnya permusuhan kami dengan Yahudi bukan permusuhan agama….[Lihat : Al-Ikhwanul Muslimun Ahdatsun Sona’at At-Tarikh (1/409-410)].

Tidakkah ucapannya ini menyakitkan muslimin dan mujahidin di Palestin yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah ?? Walaupun begitu, Hasan Al-Banna masih tega untuk berkata : “…Dan tidaklah gerakan Ikhwanul muslimun itu menentang satu aqidah tertentu (dari aqidah-aqidah yang ada),
atau agama tertentu (dari agama-agama yang ada),…[Lihat : At-Thoriq ilal Jama’aitil Um 132]

“…Bahkan orang-orang Yahudi yang tinggal di sini (Mesir), tidak ada antara kami dan mereka kecuali hubungan baik belaka.” [Lihat : At-Thoriq ilal Jama’aitil Um 132]

Dan Yusuf Qardhawi-pun berkata :
“Sesungguhnya kami tidak memerangi Yahudi karena aqidah, akan tetapi hanya karena mereka merampas tanah kami” [Koran Harian Ar-Royah, Qothar, hal. 17 edisi : 4696 Rabu, 24 Sya’ban 1415 H / 25 Januari 1995 M]

Tidak !!, Jangan katakan kami memfitnah sebelum kalian melihat pada sumber-sumber yang kami sebutkan !!.

Tidak !!, kami tidak menuduh mereka agen zionis seperti kalian menuduh Salafyyin dan Arab Saudi (secara dzholim) sebagai agen Zionis. Tapi ada apa dibalik sikap tokoh kalian dengan orang-orang Yahudi ??

Bagaimana Dengan Jama’ah Tabligh ??
Dan buat saudara-sadara yang menisbatkan dirinya pada Jama’atut Tabligh, sesungguhnya kalianpun telah mengadopsi fitnah ini, yang kalian hembuskan sejak dahulu, ketika kalian menjadi dengki sebab banyak dari saudara-saudara kita mendapat hidayah untuk mengikuti sunnah Rasulullah dalam aqidahnya, ibadahnya, dan muamalahnya. Tidak hanya terbatas pada sunnah makan, tidur, dan buang hajat saja !!. Kemudian kalian mendapat “secercah cahaya” (pemberitaan “Suara Hidayatullah”, yang sebenarnya tidak pantas dikatakan cahaya) ditengah kebingungan kalian mencari bukti.

Cukuplah penjelasan kami pada awal-awal pembahasan ini sebagai bantahannya; bahwa bukti kalian bukanlah bukti, hanya bualan, ; bahwa dalil kalian lebih rapuh dari rumah laba-laba, rapuh dari segala segi, kalau seandainya dalil itu selamat dari satu segi, maka dia tidak akan selamat dari banyak segi. Kalian hanyalah “burung beo” dari ucapan sang agen yang sama sekali tidak membawa bukti. Tidakkah kalian mendengar sabda Rasulullah

“Artinya : Hendaklah ada bukti bagi orang yang menuduh dan ada sumpah bagi yang mengingkari” [Hadits Hasan Riwayat Al-Baihaqi, Lihat kitab Arba’in Nawawiyyah Hadits No.33]

Lantas kenapa kalian tidak mengamalkannya ??, atau kalian menganggap ini adalah ilmu masail yang tidak perlu dipelajari !, atau kalian tidak faham ma’nanya ??, atau kalian pura-pura tidak tahu akan hadits ini ??, atau pura-pura tidak faham ma’nanya ??, karena kalian dengki kepada kami!!. Mengapa kalian begitu benci kepada orang yang selalu menasehati kalian dengan ikhlas ??, membawakan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih, membawa bukti dari kitab-kitab kalian, atau kalian sudah seperti orang-orang Syi’ah yang 99 % agamanya takiyah (bohong) seperti orang-orang munafiq ??.

[A]. Ada Apa Antara Jama’ah Tabligh Dan Zionis Inggris Di India ??
Kami telah membantah tuduhan Jama’ah Tabligh (Amir Bid’i cs) yang mengaitkan da’wah Salafiyyah dengan zionis internasional (AS, Yahudi dan Inggris). Kini saatnya kami ingin membalik keadaan melalui beberapa pertanyaan. Pertanyaan tersebut akan muncul setelah kita menilik berita temuan kami berikut ini

Hifdzurrahman As-Sayuharwi, mantan anggota parlemen India menyatakan, “Dulu, penguasa Inggris di India membantu gerakan Jama’ah Tabligh di awal perkembangannya dengan harta Haji Rasyid Ahmad, kemudian memutus bantuannya.” [Lihat : Haqiqah Dakwah Ila Allah, hal. 66 dan Jama’ah Tabligh Fi Qarah Hindiyah, hal. 65. Menukil dari Mukalamah Ash-Shadriyin, hal. 4 Cet. Diyobant India]

Kami tidak akan bersikap zhalim dengan menelan bulat-bulat pemberitaan tersebut. Kami tidak akan mengatakan berita ini shahih, tidak pula dusta. Akan tetapi ini adalah sebuah fakta yang berkembang melalui sebuah buku yang dicetak di India (Diyobant), silahkan cek sendiri kebenarannya, kemudian jelaskanlah secara mendetail kepada ummat : “Ada hubungan apa gerangan antara Jama’ah Tabligh dengan Inggris di India…??” Sebab tidak akan pernah sirna dari ingatan ummat bagaimana Inggris menjalin hubungan asmara dengan Yahudi dan AS dalam mengahancurkan negeri-negeri Islam.

[B]. Konsep Jihad Menurut Jama’ah Tabligh, Sangat Menguntungkan Yahudi.
Jama’ah Tabligh punya pemahaman yang aneh tentang jihad dalam Islam. Jama’ah Tabligh meniadakan konsep Jihad dalam artian perang mengangkat senjata melawan musuh-musuh Islam. Bagi mereka, yang dikatakan jihad adalah khuruj (berkelana pindah-pindah dari masjid ke masjid) selama 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.

Konsep ini tentu saja membuat Yahudi dan musuh-musuh Islam bersorak-sorai dalam pesta kegembiraan. Betapa tidak; Islam hanya akan jadi boneka mainan AS dan Yahudi jika makna jihad hanya diartikan dengan melancong, ber-jaulah dan hanya berdiam diri masjid.

Seenak perutnya mereka menafsirkan firman Allah.

“Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji (Allah), as-Saaihun, yang ruku’, yang sujud.” [At-Taubah ; 112]

Menurut Jama’ah Tabligh, as-Saaihun (orang-orang yang mengembara) dalam ayat tersebut dimaksudkan kepada orang-orang yang khuruj.

Ini adalah kejahilan terhadap Kitabullah. Sebab yang dimaksud dengan as-saaihuun (orang-orang yang mengembara), ialah orang-orang yang berjihad (perang) di jalan Allah. Ibnu katsir (Seorang Mufassir) berkata, “Ada bukti yang menguatkan, bahwa yang dimaksud dengan siyaahah di sini iala jihad….bukan maksudnya siyaahah yang dipahami oleh sebagian orang yang beribadah hanya dengan melakukan siyaahah (pengembaraan) di muka bumi.” [Tafsir Ibnu Katsir : II/407]

Hal ini terungkap dari penuturan Nadhar M. Ishaq Shahab, penulis buku “Khuruj fi Sabilillah” [hal. 74, penerbit Pustaka Billah] ; dimana dia menganggap pemberangkatan pasukan perang yang dipimpin oleh Usamah radhiallahu ‘anhu sebagai jama’ah khuruj -na’udzubillah-

Masih dalam buku yang sama, [hal. 22] penulis berkata : “Yang bermujahadah untuk mendapatkan kekuatan fisik adalah kaum ‘Ad”
.
Subhaanallah, betapa kejinya ungkapan ini; sebuah sindiran yang halus terhadap para Sahabat yang menjalankan perintah Allah dalam mempersiapkan kekuatan fisik dan material untuk menyambut seruan menuju Syahid (perang di jalan Allah) :

“Artinya : Dan siapkanlah untuk mengahadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengatahuinya.“ [Al-Anfal : 60]

Jama’ah Tabligh memalingkan makna hadits yang berbicara tentang keutamaan jihad (perang) kepada pengertian “khuruj ala Tabligh”; yaitu “tamasya da’wah” selama 3 hari, 40 hari dan 4 bulan. Sebagaimana yang diungkapkan dalam buku “Khuruj fi Sabilillah” [hal. 56].

Demikianlah Jama’ah Tabligh dalam memahami jihad, sebuah pemahaman yang akan merugikan kaum muslimin diseluruh dunia dan menjadikan musuh-musuh Islam leluasa dalam melakukan makarnya tanpa mengkhawatirkan adanya perlawanan kaum muslimin melalui seruan kalimat-kalimat jihad yang suci.

Syaikh Saifur Rahman bin Ahmad Ad-Dahlawi berkata : “Salah satu ciri khas jama’ah ini ialah, mereka meyakini, bahwa siapa yang keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah, berarti telah melakukan jihad yang besar bahkan akbar. Mereka beranggapan, keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah ini lebih afdhal daripada memerangi musuh-musuh Allah dan RasulNya, lebih afdhal daripada memelihara kemurnian Islam dan keutuhan kaum muslimin. Bukti yang menguatkannya ialah pernyataan seorang ‘ulama dan para penuntut ilmu pada masa peperangan jihad Afghanistan melawan komunis, bahwa Jama’ah Tabligh mendatangi tempat-tempat mereka untuk mengajak mereka khuruj bersama jama’ah mereka !

Barang siapa melakukannya (yakni khuruj -red), berarti ia telah melaksanakan sunnah para nabi dan rasul, telah melaksanakan sunnah sayyidul anbiyaa’ wal mursalin, Muhammad saw. Bererti ia telah keluar seperti halnya sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dalam peperangan medan jihad.“ [Silakan lihat buku I’tibariyah Haula Al-Jama’ah Tablighiyah, hal 51]

Anehnya, Jama’ah tabligh meyakini bahwa inilah “kerja dakwah”para Sahabat semasa hidupnya. Kami katakan : Bagaimana mungkin para Sahabat akan mampu menaklukkan kerajaan Persia, Romawi dataran Afrika sampai Eropa timur hanya dengan “jihad” berupa pindah-pindah masjid dan ber-jaulah ria tanpa menebar da’wah tauhid, mengangkat tombak, tanpa bernaung di bawah kilatan pedang, tanpa melesakkan anak-anak panah tepat di jantung-jantung kuffar. Bagaimana mungkin Jama’ah Tabligh bisa lebih mulia dalam khuruj-nya dibandingkan tentara-tentara Allah yang mempertaruhkan jiwa dan raganya bertempur dan berkemul dengan debu-debu jihad fi abilillah.

Wahai saudara-saudara yang menisbatkan diri pada Jama’ah Tabligh !, carikan kami dalil sepotong saja yang jelas menceritakan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya dahulu pindah dari satu masjid kemasjid yang lain seperti kalian !!, padahal dahulu sudah ada Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Quba’ dan Masjidil Aqso. Mana bukti kalian mengikuti sunnah
Rasulullah dalam berda’wah ??.

[C]. Ekslusivisme Dan Fanatisme Ekstrim, Andil JT Dalam Menimbulkan Perpecahan Ummat
Salah satu senandung Jama’ah Tabligh dan hizbyyin yang paling jahat adalah menuduh da’wah salafiyyah sebagai penyebab perpecahan dalam tubuh ummat Islam.

Bantahan :
Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang menyerukan “Persatuan Islam” yang hakiki, yaitu di atas aqidah dan keyakinan yang benar menurut pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana para sahabat telah membangun asas-asas persatuan tersebut. Allah telah berfirman

“Artinya : Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)” [Al-Baqarah : 137].

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang hidup sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnah-ku dan sunnah-sunnah Khulafa’ Ar-Rasyid yang terbimbing dan lurus sesudahku. Gigitlah ia dengn gigi geraham kalian. Dan awaslah kalian terhadap setiap perkara baru yang diada-adakan (bid’ah-red), karena setiapnperkara yang diada-adakan adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. [Hasan Shohih, H.R. An-Nasai dan At-Tirmidzi].

Jika seseorang telah menyimpang dari aqidah yang benar, tidak berpegang teguh kepada sunnah dan pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya, maka sungguh ia berada dalam permusuhan dengan Rasulullah dan para sahabatnya dan orang orang yang berpegang teguh dengan sunnahnya (mengikuti mereka dengan baik).

Justru Jama’ah Tabligh dengan banyak penyimpanganya dalam masalah aqidah dan manhaj, telah memposisikan dirinya sebagai penyebab perpecahan ummat.

Salah satu ajaran Shufi yang sangat populer ialah ketundukan mutlak kepada pemimpin atau guru, benar atau pun salah perintah gurunya itu. Ali Wafa berkata, “Murid yang sejati dalam berperilaku di hadapan Syaikhnya, laksana mayat yang terbaring di hadapan petugas yang memandikannya.”

Kelihatannya, prinsip taklid buta ini juga dipegang oleh Jama’ah Tabligh. Dalam buku Hikmah Usaha Hidayat, karangan Muhammad Yunus Suraji Panidi, hal. 102 disebutkan, “Jama’ah manapun yang datang dari luar negeri sekalipun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun dari usulan itu,
walaupun kelihatan baik.”

Dan Jama’ah Tabligh sangat fanatik pada usaha “khuruj”-nya, dan mereka menangisi orang-orang yang meninggalkan “khuruj” bersama mereka, seolah-olah mereka tidak melihat adanya usaha da’wah diluar Jama’ah mereka, padahal “khuruj” ini hanya hasil pemikiran pendiri Jama’ah ini. Hal ini jelas menunjukkan kefanatikan mereka yang ekstrim. Bentuk fanatisme seperti ini, bukankah akar dari setiap perpecahan dan pertikaian di mana setiap kelompok bangga dengan kelompoknya. Ini adalah sikap orang-orang musyrik sebagaimana yang dikabarkan Allah dalam firman-Nya : “

“Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar-Ruum : 31-32]

Kefanatikan Jama’ah Tabligh juga terlihat dari cara mereka yang melampaui batas dalam mengkultuskan kitab Fadhail Amal. Mereka lebih suka “ber-bayan ria” dalam setiap kali khuruj ketimbang mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab hadits yang shahih untuk diamalkan dan dida’wahkan. Padahal dalam kitab tersebut banyak hadits-hadits dhoif, dan palsu, serta cerita-cerita hayalan kaum sufi yang sama sekali bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Salah satu diantara “1001” khurafat yang terdapat dalam Fadhail Amal pada bab fadhilah haji adalah kisah tentang Ahmad Rifa’i yang mengunjungi makam Rasulullah pada tahun 555 H; dimana dia berdiri di depan makam Rasulullah dan membacakan dua bait syi’ir, lalu Rasulullah mengeluarkan tangannya dari dalam kubur yang selanjutnya dicium oleh Ahmad Rifa’i. Lihatlah, bagaimana mereka membawakan cerita, yang para sahabat dan Imam-imam pun belum pernah mengalami hal sehebat Ahmad Rifa’I ini. Masih dalam kerangka fanatisme dan ekslusivisme yang memecah belah ummat ; Jama’ah Tabligh mengikat para anggotanya dengan sumpah setia (bai’at) yang menyimpang dari Sunnah. Pada tahun 1315 H, Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi -pendiri Jama’ah Tabligh- memberikan bai’at shufiyah kepada Rasyid Ahmad Al-Kankuwi yang sangat dicintainya. Setelah meninggalnya Rasyid Al-Kankuwi, kemudian beliau memperbaharui bai’at-nya kepada Kholil Ahmad As-Saharunfuri yang memberikan izin kepadanya mem-bai’at orang lain ala manhaj shufi. [lih. Jama’ah Tabligh Fi Syibhil Qarah Hindiyah, karya Sayid Thalibur Rahman hal. 21 dan Haqiqat Da’wah Ila Allah karya Sa’ad Al-Husein hal. 62]

[D]. Sisi Kemiripan Jama’ah Tabligh Dengan Yahudi
Semua ini berawal dari tuduhan dusta Jama’ah Tabligh terhadap da’wah Salafiyyah sebagaimana yang telah jelas bagi pembaca. Maka dihalaman terakhir ini, kami ingin mengungkap sesuatu yang tersembunyi bagi para pembaca; tentang “Tiga Belas Asas Da’wah Jama’ah Tabligh”. Ada satu poin dari 13 asas tersebut yang justru menunjukkan “kemiripan” Jama’ah Tabligh dengan Yahudi. Entah mereka sadar akan hal ini atau tidak.

Nadhar M. Ishaq Shahab dalam bukunya “Khuruj fii Sabilillah” [hal. 27, penerbit Pustaka Billah, Bandung], membawakan 13 asas Da’wah (menurut Jama’ah Tabligh). Pada poin yang ke-5 dia berkata :

“Amar ma’ruf, bukan nahi munkar”

Prinsip inilah yang menyebabkan hancurnya Bani Israil. Entahlah, Jama’ah Tabligh dan Yahudi dalam hal yang satu ini, tampaknya ada kemiripan. Allah telah berfirman tatkala menggambarkan prinsip dan sikap Yahudi : “

“Artinya : Telah dilaknati orang -orang kafir dari bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” [ Al-Maidah: 78-79]

Sungguh menakjubkan, begitu cepat Yahudi mengetahui rahasia dari sebuah “chaos” (malapetaka yang dahsyat). Prinsip yang telah menyebabkan kehancuran peradaban inilah yang coba mereka tembakkan ke negeri-negeri kaum muslimin. Agar umat Islam tidak lagi menegur saudaranya yang menyimpang dari aqidah dan sunnah yang lurus, agar kaum muslimin tidak lagi mencegah saudaranya yang berbuat syirik, bid’ah dan maksiat. Jika hal ini telah
merata di bumi-bumi Islam maka tunggulah kehancuran. Prinsip ini juga membuktikan bahwa Jama’ah Tabligh bukanlah Jama’ah yang membawa kebaikan justru membawa kerusakan dengan tidak memperdulikan kemungkaran yang bertengger di depan hidungnya. Dan membuktikan pula bahwa Jama’ah ini bukanlah Jama’ah yang membawa ilmu, yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya : “Yang akan terus menerus membawa ilmu agama ini pada setiap generasi adalah orang-orang yang adil dan terpercaya ilmu agamanya dan perangainya. Mereka yang membawa ilmu agama dengan kriteria demikian itu melakukan gerakan-gerakan : (1) Meluruskan kembali penyimpangan kalangan ekstrimis dalam memahami agama. (2) Membantah kedustaan para pendusta yang ingin mengekspliotasi agama demi kepentingan pribadi atau golongannya. (3) Meluruskan kembali kesalahan penafsiran agama yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh ” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wa Ta’dil 1/1/17 dan Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra 10/209]

Dan Jama’ah Tabligh telah membuktikan prinsip tersebut dengan masih menjamurnya simbol-simbol kesyirikan dan bid’ah di India, Pakistan -negeri kayangan yang dielu-elukan Jama’ah Tabligh-. Padahal jumlah mereka yang keliling dunia hampir jutaan. Bukankah syirik dan bid’ah adalah dua dosa besar yang bertengger di papan atas yang mengalahkan dosa-dosa kelas kaliber lainnya ?. Inilah akhir dari bantahan kami.

“Jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu” [HR. Bukhori, Arbain Nawawi No. 20]

[1] Kami membedakan antara pengekor hizby (kelompok / jama’ah) dengan tokoh-tokohnya, dan prinsip dasar jama’ah itu sendiri. Kritikan-kritikan pedas para ulama’ Ahlussunnah hanya ditujukan kepada tokoh-tokoh hizby dan prinsip-prinsip mendasar hizby yang menyimpang, dikarenakan bahaya pemikiran dan da’wah mereka bagi umat Islam. Sedangkan pengekor hizby adalah sekumpulan pemuda-pemuda Islam yang terbakar semangatnya dikarenakanpengaruh pemikiran tokoh-tokoh hizby dan tanpa sadar telah mempraktekkan prinsip-prinsip hizby yang menyimpang. Mereka ini tidak tahu menahu tentang hakikat hizby yang sesungguhnya. Kepada mereka tidak boleh bersikap keras; da’wah dan nasehat kepada mereka haruslah sesuai dengan asal prinsip dak’wah Ahlussunnah yaitu : “Lemah Lembut” . Kaidah ini berlaku bagi setiap jama’ah bid’ah lainnya.

[2] Ibn Taimiyyah, Minhajus Sunnah Juz 1, hal 7, dan hal disebutkan pula oleh : Al-Baghdadi dalam, Al-Farq Bainal Firaq, hal 15-225, Imam Bukhori, Al-Jami’ As-Shohih Juz 8 hal 57, dll.

[3] Apa dan bagaimana Tauhid Hakimiyah menurut Quthbiyyin (pengekor Quthub) ?? Bagaimana pemahaman yang lurus menurut Al-Qur’an dan hadits serta penjelasan salaf ??. Insya Allah Al-Hujjah akan menerbitkan risalah khusus tentang takfir; kaidah Ahlussunnah dan hukum-hukum yang berkaitan tentangnya

Membongkar Kedok link Salafitobat

Tentang Salafytobat ( mengadu domba sesama muslim )

Bismillah,

Sementara beliau-beliau yang lebih berilmu, membantah tulisan-tulisan tulisan-tulisan salafytobat dengan ilmu, dasar, bukti serta dalil-dalil yang kuat, maka pemilik blog ini, hendak menyimpulkan secara garis besar dengan pendekatan yang sangat sederhana yang bersifat logis, bahwa pemilik blog salafytobat hendak mengkaburkan opini pembaca tentang kebenaran.

Dengan memohon perlindungan dan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla penulis hendak mengemukakan sedikit unek-uneknya yang menjadi ganjalan-ganjalan dihatinya karena sepak terjang yang dibuat oleh pemilik blog salafytobat.

Tentang Nama Pemilik Blog Salafytobat

Sudah menjadi maklum bahwa, setiap tulisan yang ilmiah haruslah dicantumkan dengan jelas siapa yang menulis tulisan tersebut. Begitu juga dengan blog, pembuat blog yang baik dan mempunyai maksud yang baik dalam pembuatan blog tentunya akan menyertakan identitas diri, yang biasanya akan secara khusus dibuat satu halaman atau minimal namanya.

Akan teapi bagaimana dengan pembuat atau pemilik blog salafytobat? Sudahkah dia mencantumkan identitasnya atau minimal namanya dalam blognya tersebut? Jika tidak, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada para pembaca pengunjung blog salafytobat yang mungkin mengira bahwa apa-apa yang disampaikan dalam blog tersebut benar.

Jika datang kepada anda orang yang tidak anda kenal, kemudian memberitahukan sesuatu hal penting dalam hidup anda, apakah anda serta merta akan mempercayainya tanpa meneliti lebih dulu, padahal jika anda salah dalam hal tersebut maka bukan hanya dunia anda jaminannya tapi akhirat juga? Pertanyaan saya selanjutnya, apakah anda juga akan mempercayai apa-apa yang disampaikan oleh pemilik blog salafytobat padahal anda belum mengenalnya, belum mengetahui kapasitas keilmuannya?

Seorang Penyampai Kebenaran Tidak Akan Melakukan Cara Yang Memalukan Untuk Menyampaikan “Kebenaran”

Kebenaran adalah sesuatu yang baik dan mulia, tentu dia harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Lantas bagaimana menurut anda jika ada pihak yang mengatakan sebuah “kebenaran” (itu adalah anggapan dari pemilik blog salafytobat) dengan menggunakan nama pihak lain, yang mana apa yang disampaikan itu bertolak belakang dengan apa yang diyakini oleh pihak yang namanya digunakan tersebut?

Itulah yang dilakukan oleh pemilik blog salafytobat.
Berapa waktu yang lalu melalui email yang saya terima dari milis Assunnah, ada beberapa teman yang membagi pengalamannya, bahwa mereka telah mendapat email dari admin Assunnah dan Darussalaf akan tetapi isinya sangat berkebalikan dengan apa yang selama ini disampaikan oleh kedua situs tersebut, pada akhirnya diketahui bahwa email tersebut bukan berasal dari Assunnah dan Darussalaf akan tetapi dari pemilik blog salafytobat yang mana dia telah membuat alamat email palsu yang disamakan atau dibuat mirip dengan email admin Assunah dan Darussalaf.

Pertanyaan saya selanjutnya, metode penyampaian kebenaran macam apa yang digunakan oleh pemilik blog salafytobat ini? Apakah hal ini tidak memalukan? Jika kenyataanya sudah seperti ini, apakah kita akan masih mau mendengar omongannya, membaca tulisannya atau menyempatkan diri membuka blognya? Rasanya semua itu hanya membuang waktu saja.

Sekiranya hanya itu uneg-uneg dari saya, saya hanya manusia biasa banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tidak berhak berpendapatkan? Diatas adalah pendapat saya, silahkan kritik pendapat saya, saya akan berlapang dada menerimanya.
Jika ada yang benar dari tulisan saya diatas, maka itu datangnya adalah dari Alloh Azza wa Jalla, jika terdapat kesalahan itu datangnya.

(Oleh Pemilik Blog / Abu Salman)

http://thesystemseeker.wordpress.com

——————————–
SALAFY TOBAT KURANG BER AKHLAK KIRIM EMAIL SPAM,ADU DOMBA SESAMA MUSLIM

Diambil dari Millis Assunnah

Tentang Salafy***

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saya juga menerima kiriman dari orang tersebut. Setelah saya membaca, tidak ada

tanda-tanda si pengirim bermanhaj salaf.

Saya perhatikan ciri-cirinya:

1/ Bermaksud meluruskan kesalahan pandangan orang lain atau mendakwahkan

kebenaran, tetapi mengirim dengan memaksa (spam) kepada alamat-alamat pribadi.

Dia merasa melakukan amal shalih dengan cara berdakwah seperti ini.

2/ Tanpa uluk salam kepada sesamanya dan tidak menunjukkan kesantunan seorang

bermanhaj salaf.

3/ Mengecoh penerima spam dengan mengaku-aku.

4/ Hadits-hadits yang dikutip tidak jelas derajat keshahihannya.

5/ Mengaku bermanhaj salaf, tetapi entah pemahaman menurut siapa.

Tindakan orang ini serupa saja dengan dakwah dari luar Islam yang memaksa dan

menamakan diri dengan “hakekathidup”. Sampai sekarang masih dilakukan. Alamat

emailnya selalu diubah dan hanya berlaku sekali karena hanya ingin

mempropagandakan pendapat dan keyakinannya. Jelas hanya ingin mengacau dan tidak

ada bukti berniat baik.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberi petunjuk kepada orang yang mengaku

salafytobat atau apa pun nama yang dia pakai.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Abu Farhan

———————————————————————————————————————

— In assunnah@yahoogroups.com, “… Chandraleka”
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Berarti yang kena bukan cuma member milis Assunnah saja ya?

Kelihatannya upayanya getol sekali. Dan cenderung sistematis dengan target

tertentu.

Saya juga dapat kiriman email dari Salafy*** tapi sama sekali tidak saya baca

dan langsung ditandai sebagai spam.

Buat ikhwah yang lain mohon jangan direply apapun, karena jadinya email

berantai nantinya. Langsung hapus saja.

Seandainya dia punya akhlak, insya Allah dia tidak berdakwah (bila yang

diserunya adalah kebenaran) dengan model SPAM.

Mungkin kalau sudah capek baru dia berhenti.

Wallahu’alam.

Chandraleka

a slave of Allah

———————————————————————————————————————

18b. Re: Fw: update : Hukum qunut subuh

Posted by: “Abu Syabilla” abu.syabilla@… abu.syabilla

Sat May 30, 2009 7:44 pm (PDT)

Ana kebetulan ikut milis salafi indonesia, dan admin di sana menginfokan

sama persis dengan apa yg diinfokan admin assunnah, dimana admin milis

salafi indonesia juga dipalsukan dengan menggunakan alamat email admin

darussalaf.

Begitupula sekalian ana ingin sampaikan, bahwa salafytobat telah

menggunakan cara baru yaitu mengadu domba peserta2 milis islam dari manhaj

lain dan mengirimkan email dengan suatu bahasan tertentu kepada para miliser

yg berbeda manhaj, akhirnya terjadilah sahut menyahut dan saling caci

mencaci, semoga ikhwan2 salaf tidak terus terjebak dengan cara busuk ini.

Akan sangat lebih baik dengan tidak mereply email2 jahat dari salafytobat,

karena jika kita saling bersahutan dengan miliser dari manhaj yg berbeda

maka senang lah si syaiton dan agennya (salafytobat) disitu pula ada

teman2nya yg juga memperkeruh suasana. Semoga kita bisa terhindar dari

fitnah ini.

Semoga info ini bermanfaat. Barakallohu fik.

Abu Syabilla

“Ya Allah, jangan engkau bangkrutkan aku di hadapan-MU kelak..”

———————————————————————

Padahal mengadu domba sesama Muslim ( Namimah),dalah suatu yang diharamkan berdasarkan al Qur’an, sunnah dan kesepakatan seluruh umat Islam.

MEMBEDAH SYUBHAT KHOWARIJ

Khawarij berasal dari kata khuruj yang artinya memberontak. Mereka adalah satu kelompok yang menjadikan pemberontakan terhadap para penguasa sebagai agamanya. Mereka mengkafirkan kaum muslimin dengan dosa-dosa besar, khususnya terhadap para penguasa. Kemudian menghalalkan darah mereka sebagai jembatan untuk menghalalkan pemberontakan terhadap mereka. Mereka adalah kaum reaksioner yang berjalan dengan emosinya tanpa didasari ilmu.

Atas dasar itulah mereka berduyun-duyun datang ke Madinah dari Mesir, Kuffah dan Basrah menuju rumah Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu menuntut diturunkannya beliau dari Khilafah. Mereka menuduh Utsman menyelewengkan harta Baitulmal (korupsi), Utsman lebih mementingkan keluarganya (nepotisme), dan lain-lain. Inilah demonstrasi pertama dalam sejarah Islam, yang merupakan sunnah sayyi’ah (contoh yang jelek) dari kaum khawarij. Demonstrasi mereka itu berakhir dengan anarkis hingga terbunuhlah Utsman ibnu Affan radhiallahu 'anhu.

Jika manusia terbaik setelah Abu Bakar dan Umar dituduh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), maka bagaimana mereka akan puas dengan khalifah-khalifah setelahnya, terlebih lagi pemimpin kaum muslim pada zaman kita ini. Dengan kata lain mereka akan tetap tidak pernah puas terhadap pemimpin manapun sampai akhir zaman. Dan mereka akan terus hidup memberontak, membunuh dan menteror kaum muslimin.

Kita tidak berbicara tentang masa lalu yang sudah berakhir ceritanya. Akan tetapi kita berbicara tentang manhaj khawarij yang masih tetap ada di masa kita ini, meskipun dengan berbagai macam nama dan identitas yang berbeda seperti NII, Jama’ah Islamiyah (JI), LDII, Lembaga Kerasulan (LK), Quthbiyyun dan lainnya. Bahkan mereka kini lebih mengerikan dari pendahulunya, karena mereka lebih bodoh. Mereka menebar teror, kerusuhan, penculikan, pembunuhan dan lain-lain di negeri-negeri kaum muslimin dengan dalih yang sama: kekafiran, kedzaliman, korupsi, kolusi, nepotisme dan seterusnya.

Pengkafiran mereka terhadap sesama kaum muslimin itu didasari oleh syubhat yang mereka yakini sebagai kebenaran yaitu: “Ancaman Allah (al-wa’id) terhadap orang-orang yang berdosa pasti akan Allah buktikan sebagaimana janji Allah (al-wa’d) pasti akan ditepati”. Mereka menganggap al-wa’d (janji dengan kebaikan) dan al-wa’iid (janji dengan ancaman), keduanya merupakan janji yang mesti Allah tepati. Mereka bawakan dalil-dalil tentang janji Allah yang pasti ditepati seperti dalam firman-Nya:

...إِنَّ اللَّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

"…Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji". (Ali Imran: 9)

Dengan ayat di atas mereka menganggap bahwa semua ancaman Allah dalam al-Qur’an terhadap para pendosa yang bermaksiat, pasti akan ditepati dan ditimpakan kepada pelakunya.

Seperti ancaman Allah bagi orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja dalam ayat-Nya:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya. Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya." (an-Nisaa’: 93)

Menurut anggapan mereka, seorang mukmin yang membunuh seorang mukmin lainnya pasti akan kekal di dalam Jahannam. Mereka mengkaitkannya dengan hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya merupakan kekafiran. (HR. Bukhari Muslim)

Demikian pula, ancaman Allah bagi orang yang bermaksiat secara umum seperti dalam ayat-Nya:

...وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

"… Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya". (al-Jin: 23)

Mereka menganggap telah kafirnya para pelaku maksiat dan dosa-dosa besar, karena mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam kekal selama-lamanya sebagaimana dalam ayat di atas. Kemudian dikaitkan pula dengan ucapan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَهُوَ مَؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخْمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

"Tidaklah berzina seorang pezina ketika berzina dalam keadaan mukmin, tidaklah minum khamr ketika meminumnya dalam keadaan mukmin dan tidak mencuri seorang pencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin". (HR. Bukhari Muslim)

Mereka menganggap bahwa dalam hadits ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menafikan keimanan bagi para pelaku maksiat, yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir.

Inilah inti penyimpangan mereka, yaitu:

1. Mereka menganggap sama antara ancaman Allah dan janji-Nya.
2. Tidak membedakan kufur akbar dan kufur ashghar.

Kita jawab syubhat mereka ini dari beberapa sisi:
Pertama, para salafus shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in, tabiit-tabi’in berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara ancaman dan janji Allah. Jika hal itu merupakan janji, Pasti akan Allah tepati dan tidak mungkin Allah selisihi. Karena menyelisihi janji merupakan sifat yang jelek dan Allah maha suci dari sifat seperti itu. Berbeda halnya dengan ancaman yang Allah ancamkan kepada orang-orang yang bermaksiat, mungkin saja Allah memaafkan dan mengampuninya. Hal itu merupakan sifat yang mulia bagi Allah, yaitu sifat maghfirah (mengampuni), rahmah (menyayangi), al-afuw (memaafkan), dan lain-lain.

Ahlus sunnah wal jama’ah sejak zaman salaf sampai hari ini berkeyakinan bahwa ancaman Allah bisa saja diterapkan, bisa pula tidak. Dengan kata lain tahtal masyi’ah (di bawah kehendak Allah). Jika Allah kehendaki Allah akan mengadzabnya, dan jika dikehendaki oleh-Nya, Ia akan mengampuninya. Dalilnya adalah ucapan Allah:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (an-Nisaa’: 48)

Dalam ayat di atas Allah menyatakan “dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik), bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” menunjukkan bahwa ancaman Allah bisa saja tidak Allah laksanakan kepada pelaku dosa, karena Allah telah memaafkan dan mengampuninya.

Kedua, bahwa menurut aqidah ahlus sunnah wal jama’ah yang disepakati secara ijma’ adalah bahwa kekafiran itu bertingkat-tingkat. Ada kufur yang mengeluarkan dari Islam yaitu kufur akbar, ada pula kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam yaitu kufur ashgar. Atau dengan istilah lain kufur i’tiqadi (dalam keyakinan) dan kufur amali (dalam amalan).

Terkadang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menyebutkan beberapa dosa sebagai kekafiran, seperti hadits di atas: “Memerangi muslim adalah kekafiran” atau hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:

لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضِكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

"Jangan kalian kembali kepada kekafiran, sebagian membunuh sebagian yang lain". (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam adalah kufur amali, yaitu kekufuran kecil yang tidak mengeluarkan dari Islam. Dalil-dalil yang membuktikan hal ini sangat banyak, di antaranya ayat Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kalian dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih". (al-Baqarah: 178)

Dari ayat ini kita mendapatkan beberapa faedah:

1. Seorang muslim yang membunuh muslim lainnya disebut dalam ayat ini sebagai “saudara” bagi keluarga terbunuh. Hal ini tentunya menunjukkan persaudaraan keimanan yang berarti dia tidak keluar dari keislaman.

2. Allah sebutkan dalam ayat ini “keringanan” bagi orang yang membunuh tadi setelah diberi maaf oleh keluarganya, yang menunjukkan kalau orang tersebut tidak kafir yang mengeluarkan dari Islam. Karena tidak ada keringanan bagi orang kafir yang murtad dan keluar dari Islam.

3. Disebutkan pula dalam ayat ini “rahmat”, yang tentunya terkandung di dalamnya ampunan. Ini pun menunjukkan bahwa orang tadi tidak kafir, sehingga masih mungkin mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah.

Bukti lainnya adalah ucapan Allah:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kalian damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kalian perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kalian berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujuraat: 9-10)

Dalam ayat ini kita dapatkan beberapa bukti yang menunjukkan bahwa orang yang memerangi atau membunuh seorang muslim tidak kafir keluar dari Islam, di antaranya:

1. Allah menyebutkan dalam ayat ini dua kelompok yang saling berperang adalah orang-orang mukmin.

2. Allah juluki mereka dengan “saudara” yang tentunya yang dimaksud adalah saudara sesama muslim.

3. Allah perintahkan kepada kelompok penengah untuk mendamaikan keduanya dengan kalimat “Damaikanlah antara saudara-saudara kalian”, yang tentunya menunjukkan mereka masih muslimin.

4. Allah memerintahkan kepada kelompok penengah untuk memerangi orang yang tidak mau berdamai (kelompok bughot) sampai kembali kepada perintah Allah. Dan sudah diketahui secara umum bahwa memerangi para bughot adalah hingga mereka mau kembali dan taat kepada penguasanya. Wanita mereka tidak dijadikan tawanan, harta mereka tidak dianggap sebagai pampasan perang, tidak dikejar orang yang lari, tidak dibunuh orang yang luka dan seterusnya. Ini sangat berbeda dengan memerangi orang-orang yang kafir.

5. Disebutkan dalam ayat ini tujuan memerangi para bughot adalah agar mereka mau kembali berdamai dan tunduk kepada penguasa muslim. Berbeda sekali dengan tujuan memerangi orang-orang kafir agar mereka masuk Islam atau tunduk di bawah kekuasaan Islam dengan membayar jizyah.

Ketiga, bahwa penafian keimanan yang disebutkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam hadits pezina di atas tidak menunjukkan kafirnya pelaku zina tersebut. Demikian pula peminum khamr dan pencuri. Tidak ada satu pun para ulama sejak para shahabat sampai hari ini yang menyatakan kafirnya mereka.

Kalau mereka dianggap kafir dengan kufur akbar yang mengeluarkan dari Islam, tentunya tidak dihukumi dengan hukum-hukum had, seperti dicambuk, dipotong tangannya dan lain-lain. Sudah diketahui secara ijma’ bahwa hukum bagi seorang murtad adalah dibunuh.

Perhatikan ucapan Abu Ubaidah radhiallahu 'anhu ketika membantah khawarij yang mengkafirkan seorang muslim dengan kemaksiatan sebagai berikut: “Kami telah mendapati bahwa Allah telah mendustakan ucapan mereka. Yaitu ketika Allah menghukumi seorang pencuri dengan dipotong tangannya, seorang pezina dan penuduh zina dengan cambuk. Kalau saja dosa itu mengkafirkan pelakunya, tentu hukumnya atas mereka tidak lain kecuali dibunuh. Karena Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

"Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia!". (HR. Bukhari).

Ketika dua kelompok yang bertikai dalam perang shiffin sepakat memilih dua penengah yaitu Abu Musa al ‘Asyari radhiallahu 'anhu dan ‘Amr bin Ash radhiallahu 'anhu, kaum khawarij keluar dan berlepas diri dari dua kelompok tersebut. Mereka mengangkat mushaf di ujung-ujung pedang mereka seraya berkata :

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ

"Tidak ada hukum kecuali milik Allah". (al-An’aam: 57)

Melihat keadaan ini, berkatalah Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu :

كَلِمَةُ حَقٍّ أَرَادُ بِهَا الْبَاطِلَ

"Kalimat yang hak, tapi yang mereka maukan adalah kebathilan".(Lihat as-Syariah oleh Al-Ajurri).

Inilah syubhat berikutnya dari kaum khawarij, yaitu menganggap bahwa mengangkat seseorang sebagai hakim untuk menengahi suatu pertikaian termasuk berhukum kepada selain Allah. Akhirnya mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu, Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu 'anhu, Abu Musa Al ‘Asyari, Amr bin Ash dan seluruh para sahabat yang ikut dalam dua pasukan tersebut. Demikian pula terhadap seluruh kaum muslimin yang ridha pada dua hakim penengah yang telah ditunjuk. Dalil yang mereka jadikan sandaran adalah ayat Allah subhanahu wata'ala:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

َ"Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir." (al-Maidah: 44)

Kemudian merekapun menghalalkan darah para shahabat dan menggerakan masa untuk menentang dan memberontak kepada mereka dengan alasan demi keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, jihad dan seterusnya. Seperti yang pernah mereka lakukan pada Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu sebelumnya.

Ayat ini pula yang dipakai KGB (khawarij gaya baru) seperti NII dan Pecahannya, JI dan seluruh kelompoknya, Ikhwanul Muslimin (IM) dan seluruh sempalannya, serta semua kelompok yang menganut quthbisme seperti Muhammad surur, dan masy’ari yang merencanakan peledakan di Riyadh, dan lain-lain dalam mengkafirkan penguasa-penguasa muslimin dan menghalalkan darah mereka.

Tidak hanya sampai di sini, bahkan mereka membela para pendahulu mereka dari kalangan khawarij yang membunuh Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu. Seperti ucapan Sayyid Qutb berikut :”… tetapi barang siapa yang melihat dengan kacamata Islam dan menilai kejadian dengan ruhul Islam tentu akan menganggap bahwa pemberontakan tersebut secara umum lebih dekat kepada ruhul Islam dan arahnya daripada sikap Utsman bin Affan atau lebih tepatnya sikap Marwan dan orang-orang yang di belakangnya dari kalangan Bani Umayyah. (lihat Keadilan Sosial Dalam Islam, cet.5).

Syubhat mereka ini telah terbantah dengan ucapan pada edisi yang lalu, yaitu bahwa kekufuran ada dua macam: kufur amali dan kufur i’tiqadi. Oleh karena itu perlu dilihat dengan teliti tafsir ayat di atas menurut para shahabat dan para Ulama setelahnya. Agar jangan kita menyimpang dari jalan mereka dan melenceng dari apa yang dimaukan oleh Allah dengan ayat tersebut.

Syaikh al-Albani dalam kitabnya Fitnatut Takfir wal Hakimiyah, hal. 31. menukilkan ucapan Ibnu Abbas: “Yang dimaksud kafir pada ayat ini adalah kufrun duna kufrin (kafir yang tidak mengeluarkan dari Islam)”.

Dalam riwayat lain disebutkan ketika seseorang menyampaikan ayat ini kepada Ibnu Abbas, beliau menyatakan: “Jika dia melakukan demikian, maka dia telah berbuat kekufuran, tetapi bukan seperti kafir kepada Allah dan hari akhir”. (Riwayat ath-Thabari, juz 6, hal. 256)

Dalam riwayat lain, beliau menyatakan: “Itu adalah kekufuran, tapi bukan kekufuran kepada Allah dan malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya”.

Thawus bin kisan seorang tabiin juga mengatakan hal yang sama seperti ucapan Ibnu Abbas di atas. (lihat Tafsir Ibnu Katsier, juz 2/80)

Atha bin Abi Rabah berkata:”Itu adalah kufrun duna kufrin, dzulmun duna dzulmin dan fisqun duna fisqin.” (lihat Tafsir Ibnu Katsier, juz 2/80)

Yang maksudnya juga sama, yaitu kekafiran, kedhaliman dan kefasikan yang tidak mengeluarkan dari agama.

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Zaadul Maasir Fi ‘Ilmit Tafsir berkata: ”Yang dimaksud dengan kekafiran dalam ayat tersebut ada dua pendapat. Pertama kufur kepada Allah dan yang kedua kufur kepada hukum tersebut yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama. Kesimpulannya, adalah bahwa seorang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan dengan menentangnya dalam keadaan dia tahu Allah subhanahu wata'ala telah menurunkannya seperti apa yang dilakukan oleh Yahudi, maka dia kafir. Adapun orang yang berhukum tidak dengan hukum Allah karena kecenderungan hawa nafsu dengan tidak menentangnya maka dia adalah dhalim atau fasik.

Al-Baghawi dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzir berkata:”Berkata para Ulama bahwa yang demikian adalah jika menolak nash-nash hukum Allah dengan terang-terangan dan sengaja. Adapun jika karena tersamar baginya atau keliru atau dengan takwilan-takwilan (alasan-alasan yang di-buat-buat) maka tidak kafir. (hal. 241)

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsirnya Al-Jami’ Li Ahkamil Quran berkata : ”…. Adapun seorang muslim dia tidak dikafirkan walaupun melakukan dosa besar. Di sini ada yang tersembunyi, yaitu siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah subhanahu wata'ala turunkan yakni menolak Al-Quran dan menentang ucapan Rasul shalallahu 'alaihi wasallam maka dia kafir. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Mujahid. Maka ayat ini umum dalam hal ini. Berkata Ibnu Mas’ud dan Al-Hasan: ”Ayat ini umum mencakup setiap orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah subhanahu wata'ala turunkan apakah dari kalangan muslimin , Yahudi ataupun orang-orang kafir”. Yakni jika menentang dengan keyakinannya dan menghalalkannya. Adapun jika dia melakukannya dengan tetap meyakini bahwa dia telah melanggar keharaman maka dia adalah orang-orang fasik dari kalangan muslimin. Urusannya diserahkan kepada Allah, kalau Allah kehendaki Allah ampuni dia dan kalau Allah kehendaki Allah hukum dia. Dalam satu riwayat Ibnu Abbas mengatakan: ”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka dia telah melakukan perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang kafir”. (Juz VI, hal. 190)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa berkata: ”Seseorang, kapan dia menghalalkan yang haram yang telah disepakati keharamannya secara ijma’, atau mengharamkan yang halal yang telah disepakati kehalalannya secara ijma’, atau mengganti syariat yang sudah disepakati secara ijma’ maka dia kafir murtad dengan kesepakatan para ahli fiqih. Untuk yang sejenis inilah Allah subhanahu wata'ala turunkan ucapannya –menurut salah satu pendapat-:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

"Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir." (al-Maidah: 44)

Yakni orang-orang yang menganggap halal berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan”.

Kemudian beliau berkata: ”Dan tidak ragu lagi bahwa orang yang tidak meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang Allah turunkan kepada rasulnya maka dia kafir”. (juz III/267-268; lihat pula Minhajus Sunnah, juz III/32)

Ibnu Qayyim Al-Jauziah dalam kitabnya Madarikus shalikin berkata: ”ada pun kekufuran itu ada dua macam yaitu kufur akbar dan kufur asghar. Kufur akbar adalah yang menyebabkan pelakunya kekal dalam neraka, sedangkan kufur as-ghar adalah yang tidak mengekalkan dalam neraka”. (Juz I/335)

Kemudian beliau berkata tentang ayat di atas bahwa di antara para ulama ada yang menafsirkan dengan berbagai macam tafsiran:

- Bahwa ayat ini adalah mengenai orang yang meninggalkan hukum dengan apa yang Allah subhanahu wata'ala turunkan dengan menentangnya terang-terangan (juhud), seperti ucapan Ikrimah.

- Di antara mereka ada yang menafsirkan bahwa ayat tersebut mengenai orang yang meninggalkan hukum dengan apa yang Allah turunkan secara keseluruhan, termasuk didalamnya berhukum dengan tauhid dan keislaman. Ini merupakan pendapatnya Abdul Azis Al-kinani.

- Di antara mereka ada yang menafsirannya bahwa ayat tersebut tentang orang yang berhukum dengan sesuatu yang menyeisihi nash dengan sengaja bukan karena kebodohan, kesalahan atau takwil, ini adalah pendapat Al-Baghawai dengan menukil ucapan para ulama secara umum.

- Di antara mereka ada yang menafsirkan bahwa ayat tersebut khusus bagi ahlul kitab. Demikian pendapat Qatadah, Dhahak dan lain-lain.

Kemudian Ibnul Qayyim berkata: ”Yang benar adalah bahwa berhukum degan selain yang Allah subhanahu wata'ala turunkan bisa menyebabkan dua jenis kekufuran, kufur asghar atau kufur akbar sesuai dengan keadaan si pelaku. Jika dia masih tetap meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang Allah turunkan tetapi dia menyelisihinya dengan bermaksiat dalam keadaan tetap mengakuinya, maka dia pantas mendapat adzab namun ini adalah kufur kecil.

Adapun jika dia meyakini bahwa berhukum dengan hukum Allah itu adalah tidak wajib, dia bebas memilih padahal dia yakin itu adalah hukum Allah subhanahu wata'ala maka dia adalah kafir dengan kufur akbar. Sedangkan orang yang bodoh atau keliru maka dia adalah orang yang salah dan dihukumi sebagaimana hukumnya orang-orang yang keliru”.

Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi dalam Syarh Aqidah ath-Thahawiyah mengatakan: “Di sini ada perkara yang harus kita pahami dengan benar. Yaitu bahwa berhukum dengan selain apa yang Allah turun-kan bisa menyebabkan seseorang menjadi kafir yang mengeluarkan dari agama, bisa jadi pula merupakan kemaksiatan besar (dosa besar), atau bisa pula dosa kecil. Dikatakan sebagai kekufuran, bisa jadi karena makna kiyas*), bisa jadi kufur kecil sesuai dengan dua pendapat yang tersebut dalam masalah ini. Yang demikian sesuai dengan keadaan si pelaku. Jika dia meyakini bahwa berhukum dengan apa yang Allah turunkan adalah tidak wajib, setiap orang bebas memilih, atau melecehkannya dalam keadaan tahu bahwa itu adalah hukum Allah, maka itu adalah kekufuran yang besar. Namun, jika dia tetap meyakini wajibnya berhukum dengan apa yang Allah turunkan dan ilmunya tentang hal tersebut ada, tetapi dia meninggalkannya dalam keadaan mengakui bahwa perbuatan itu perbuatan yang layak mendapatkan balasan, maka ia adalah orang yang bermaksiat. Dinamakan kafir dengan makna kiyas atau kufur kecil. Adapun jika dia tidak mengerti tentang hukum Allah dalam keadaan telah berusaha dan mengeluarkan segenap ke mampuannya untuk mengenali hukum tersebut namun dia keliru, maka dia adalah seorang yang keliru yang mendapatkan pahala atas usahanya dan kesalahannya diampuni.” (hal. 323 & 324)

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatul Ushul berkata: “Adapun tentang ucapan Allah:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

"Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir." (al-Maidah: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka orang-orang dhalim.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَاسِقُوْنَ

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka orang-orang fasik.

Apakah tiga sifat ini Allah turunkan untuk mensifati satu golongan?. Dengan makna bahwa setiap orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka dia kafir, dhalim dan fasik sekaligus. Karena Allah mensifati orang-orang kafir juga dengan kedhaliman dan kefasikan seperti dalam firmanya:

وَالْكَافِرُوْنَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

Dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang dhalim.

إِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُوْنَ

"Sesungguhnya mereka orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik".

Ataukah sifat-sifat ini turun untuk mensifati beberapa golongan sesuai dengan faktor pendorong mereka tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan? Yang lebih dekat menurut saya adalah yang kedua ini. Wallahu a’lam”. (hal. 157)

Yang dimaksud dengan ucapan syaikh ini adalah bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah belum tentu kafir, bisa jadi kafir, bisa jadi dhalim atau bisa jadi pula dia fasik yang berarti tidak kafir. Wallahu a’lam.

_________
footnote:*)

Pendapat yang benar adalah tidak adanya makna kias dalam al-Qur’an dan as-Sunnah lihat Shawa’iqul Mursalah oleh Ibnul Qayyim. Pent.

Syubhat khawarij berikutnya adalah mereka menganggap kelompok atau organisasinya sebagai ‘al-Jama’ah’. Mereka menganggap pimpinan kelompoknya sebagai ‘imam’ yang harus dibaiat dan ditaati. Setelah itu mereka membawakan dalil-dalil dari hadits-hadits tentang wajibnya berpegang teguh dengan jama’ah, wajibnya taat kepada imam dan halalnya darah orang yang melepaskan diri dari baiat.

Sungguh ini adalah syubhat yang paling mengerikan dari kelompok khawarij. Dengan syubhat ini mereka mengikat anggotanya, hingga mereka seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Ketika ada sebagian dari mereka ingin keluar dari kelompoknya, ia diancam dengan hadits tentang bughat yaitu diperanginya orang yang keluar dari jama’ah. Ketika mereka ingin mengikuti al-haq -yang berarti harus menyelisihi amar (perintah-perintah) pimpinannya-, mereka diancam dengan hadits tentang orang yang menyelisihi baiat dan seterusnya.

Sepintas para anggota kelompok ini merasa yakin atas kebenaran dalil-dalil yang dibawakan oleh pimpinannya, karena hadits tersebut dikeluarkan dalam kitab-kitab shahih. Namun ternyata ada satu permasalahan yang menyebabkan hadits-hadits tersebut tidak tepat untuk diterapkan pada kelompok tersebut, yaitu yang berkaitan dengan makna jama’ah dan imamah.

Jama’ah yang dimaksud dalam hadits-hadits yang shahih adalah Daulah Islamiyah atau negara Islam. Dan yang dimaksud dengan imam adalah kepala negara.
Seperti dalam hadits berikut:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةَ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ، ثُمَّ مَاتَ، مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah, kemudian mati, maka matinya merupakan mati jahiliyah". (HR. Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengancam bagi barangsiapa yang melepaskan diri dari ketaatan kepada penguasa dan melepaskan diri dari jama’ah -yakni memberontak-, maka jika dia mati, seperti matinya orang jahiliyah.

Yang lebih menjelaskan makna ini adalah hadits lain dalam riwayat lain yang menyebutnya dengan jelas bahwa mereka yang terancam adalah yang melepaskan diri dari penguasa sebuah negara. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا، فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barang siapa yang tidak suka dari penguasanya suatu perkara maka bersabarlah, karena tidaklah seorang keluar dari ketaatan pada penguasanya (memberontak) sejengkal saja, kemudian ia mati maka matinya mati jahiliyah”. (HR. Bukhari)

Dari hadits-hadits di atas, yang dimaksud dengan imam adalah bukan pimpinan organisasi atau kelompok tertentu, baik mereka yang bergerak di bawah tanah (rahasia) atau yang terang-terangan. Tetapi yang dimaksud adalah para penguasa yang benar-benar memiliki kekuasaan di wilayahnya, sehingga dia bisa memerintah, melarang, mengatur dan menghukumi.

Adapun kelompok sirriyah (rahasia) yang bergerak di bawah tanah dan mengaku kelompoknya sebagai negara dalam negara, maka ini hanyalah penamaan tanpa kenyataan. Ia telah menipu diri sendiri dan menipu seluruh anggotanya, karena pada kenyataannya mereka tidak memiliki kekuasaan sedikitpun di wilayahnya. Bahkan, kalau mereka menghukumi sesuatu yang berbeda dengan keputusan penguasa yang sah, mereka justru akan ditangkap dan dipenjarakan. Ini adalah bukti bahwa pada kenyataannya mereka tidak memiliki kekuasaan sedikitpun. Dan juga pimpinannya tidak layak sama sekali disebut penguasa, sultan apalagi mau dikatakan sebagai imam yang harus di baiat.

Dengan demikian tidak tepat kalau hadits-hadits tentang jama’ah ditafsirkan pada organisasi mereka. Demikian pula tidak tepat kewajiban berbaiat diterapkan untuk pimpinan organisasi mereka. Inilah bentuk pengkaburan mereka dalam menipu kaum muslimin, khususnya para anggotanya agar tetap menjadi pion-pion yang dapat diperintah dan dilarang serta dipaksa untuk membayarkan shadaqah kepada kelompoknya.

Perlu diketahui bahwa shadaqah yang mereka paksakan itu tidak sesuai dengan ajaran sunnah yang mengharuskan adanya syarat-syarat yang menyebabkan seseorang terkena kewajiban zakat, yaitu nishab (batasan jumlah) dan haul (batasan waktu 12 bulan). Mereka memaksakan shadaqah 2,5 persen kepada seluruh anggotanya, berapa pun penghasilan yang diperoleh mereka dengann tidak menunggu haulnya. Setiap mereka mendapatkan gaji atau penghasilan setiap bulannya, mesti harus memberikan kepada kelompoknya. Dan -seperti biasa-nya-, selalu mereka sertai dengan ancaman-ancaman bagi yang tidak mau membayarkannya. Inilah salah satu efek jelek yang ditimbulkan dari baiat kepada orang yang tidak berhak dibaiat.

Efek jelek lainnya dari baiat kepada pimpinan kelompok tertentu adalah terjadinya fitnah yang dahsyat di antara kelompok-kelompok. Yang demikian karena jumlah kelompok yang mengharuskan berbaiat kepada pimpinannya sebagai imam sangat banyak. Hal itu berarti setiap kelompok menganggap kelompok lain yang tidak membaiat pimpinannya sebagai bughat dan halal darahnya untuk diperangi. Dengan demikian antara satu sama lainnya saling menganggap bughat, bahkan saling mengkafirkan.

Mereka membikin negara dalam negara atau mengangkat seorang imam yang dibaiat adalah karena menganggap tidak adanya imam dan penguasa yang sah. Ini merupakan syubhat berikutnya. Karena sesungguhnya penguasa yang sekarang berkuasa, memiliki kekuatan dan wilayah kekuasaan selama dia masih muslim, maka dia adalah penguasa yang sah dan diterapkan semua hadits-hadits tadi kepadanya. Seperti wajibnya taat pada yang ma’ruf, haramnya memberontak, dan ancaman-ancaman bagi orang yang keluar dari jama’ah dan penguasanya.

Hadits-hadits tersebut justru sebenarnya membantah mereka, -kelompok-kelompok sesat tadi- yang tidak mau mengakui keberadaan penguasa yang sah, tidak mau mentaatinya, bahkan memberontak dan menentang penguasa tersebut. Kalau mereka mati, maka niscaya matinya adalah mati jahiliyah. Adapun kedhaliman, korupsi, kolusi ataupun nepotisme yang dilakukan oleh mereka, tidaklah menggugurkan statusnya sebagai penguasa.

Perhatikan hadits berikut:

أَلاَ مَنْ وَلَى عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِيْ شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَلْيَكْرَهُ الَّذِيْ يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلاَ يَنْزِعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

"Ketahuilah barangsiapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin, kemudian dia melihatnya mendatangi suatu kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata'ala, maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya, namun jangan mencabut tangannya dari ketaatan”. (HR. Muslim, Ahmad dan Ad-darimi)

Bahkan sekalipun penguasa tersebut jahat, tidak mau mengikuti sunnah, hatinya seperti hati setan, memukul punggung-punggung dan merampas harta kita, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tetap memerintahkan untuk menaatinya dan tidak memberontak kepadanya:

يَكُوْنُوْا بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُوْنَ بِسُنَّتِيْ، سَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ ِللأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

"Akan terjadi setelahku penguasa-penguasa yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak bersunnah dengan sunnahku, akan muncul di tengah mereka para laki-laki yang hati-hati mereka adalah hati-hati setan dalam tubuh-tubuh manusia. Aku berkata: Apa yang aku perbuat jika aku mengalami keadaan itu? Beliau berkata: Dengar dan taat pada penguasa walaupun dipukul punggungmu dan dirampas hartamu! Dengarlah dan taatilah!" (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian kami menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk berhati-hati dari fitnah khawarij dan untuk lebih mementingkan ilmu daripada emosi. Kalaupun kita benci kepada para penguasa karena kedhaliman-kedhaliman yang mereka lakukan, tetap kita tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya untuk tetap bersama jama’ah, tidak melepaskan atau memisahkan diri dari kaum muslimin dan penguasanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Beliau shalallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersabar di atas ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya kemudian kepada penguasanya dalam kebaikan.